SERANG, RUBRIKBANTEN – Menyusul banjir yang merendam permukiman warga sejak dini hari, Gerakan Masyarakat Bojonegara Puloampel (GEMA BP) bergerak cepat menyalurkan bantuan takjil dan nasi kotak untuk warga terdampak di Kampung Pasar, Desa Bojonegara, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, Minggu (8/3/2026).
Bantuan tersebut diberikan untuk membantu warga yang tengah menjalankan ibadah puasa di tengah kondisi darurat akibat banjir yang melanda wilayah tersebut.
Aksi kemanusiaan ini juga menjadi bentuk solidaritas masyarakat di tengah minimnya bantuan logistik dari pemerintah daerah bagi warga terdampak.
Presidium GEMA BP, Titin Kholawiyah, mengatakan pihaknya turun langsung ke lokasi untuk memastikan warga tetap dapat berbuka puasa dengan layak meski rumah mereka masih terendam banjir.
“Tadi pagi warga bercerita betapa sulitnya mereka menjalani sahur di tengah kepungan air tanpa bantuan logistik. Sore ini, GEMA BP hadir di Kampung Pasar untuk memastikan warga bisa berbuka puasa dengan layak. Kami tidak ingin warga merasa berjuang sendirian di tengah bencana yang sebenarnya bisa dimitigasi ini,” ujar Titin.
Selain menyalurkan bantuan, GEMA BP juga kembali menyoroti persoalan banjir yang disebut terus berulang setiap tahun di wilayah Bojonegara dan Puloampel.
Menurut Titin, banjir tersebut diduga terjadi akibat persoalan struktural yang hingga kini belum mendapatkan penanganan serius dari Pemerintah Provinsi Banten.
“Kami menyalurkan bantuan hari ini, tapi kami tidak ingin warga terus-menerus hidup dari bantuan darurat. Akar masalahnya sudah jelas, mulai dari penyempitan Jalan Nasional SBM, sistem drainase yang rusak, hingga dampak kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan di perbukitan,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah dua kali melayangkan surat permohonan audiensi kepada pemerintah provinsi sejak Desember lalu, namun hingga kini belum mendapatkan respons.
GEMA BP pun mendesak Pemprov Banten segera membuka ruang dialog untuk membahas solusi penanganan banjir yang kerap melanda wilayah Bojonegara-Puloampel.
“Kami mendesak Pemprov Banten untuk segera membuka pintu audiensi. Banjir di Bojonegara-Puloampel ini adalah bukti nyata bahwa tata ruang kita sedang sakit. Jangan biarkan ibadah Ramadan masyarakat terganggu setiap tahunnya hanya karena birokrasi yang enggan mendengar suara masyarakat,” pungkasnya.















