CILEGON, RUBRIKBANTEN – Pemerintah Kota Cilegon resmi menggelar Kick Off Kelurahan Siaga Tuberkulosis (TBC) di Kelurahan Taman Baru, Kecamatan Citangkil, Selasa (30/6/2026). Program ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam mendukung percepatan eliminasi TBC nasional pada 2030 melalui penguatan deteksi dini, penemuan kasus secara aktif, serta pemberdayaan masyarakat hingga tingkat kelurahan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Cilegon, tren penemuan kasus TBC terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023 ditemukan sebanyak 1.720 kasus, meningkat menjadi 1.974 kasus pada 2024, dan kembali bertambah menjadi 2.008 kasus pada 2025. Sementara hingga pertengahan Juni 2026, jumlah kasus yang berhasil ditemukan telah mencapai 816 kasus.
Peningkatan angka tersebut dinilai bukan menunjukkan semakin meluasnya penyebaran penyakit, melainkan keberhasilan pemerintah bersama fasilitas pelayanan kesehatan dan masyarakat dalam melakukan penemuan kasus secara aktif. Dengan deteksi lebih dini, pasien dapat segera menjalani pengobatan hingga tuntas sehingga risiko penularan dapat ditekan.
Penjabat Sekretaris Daerah Kota Cilegon, Ahmad Aziz Setia Ade Putra, mengatakan keberhasilan penanggulangan TBC tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Penanggulangan tuberkulosis tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata, tetapi membutuhkan gotong royong seluruh elemen masyarakat. Melalui Kelurahan Siaga TBC, kita ingin memperkuat deteksi dini, mempercepat penemuan kasus, sekaligus membangun kepedulian masyarakat terhadap pencegahan dan pengendalian TBC,” ujarnya.
Sebagai kota industri dengan mobilitas penduduk yang tinggi, lanjut Aziz, Cilegon membutuhkan sistem kewaspadaan kesehatan masyarakat yang semakin kuat. Karena itu, ia berharap Kelurahan Siaga TBC mampu memperkuat sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, dunia usaha, dan masyarakat dalam mempercepat eliminasi TBC.
“Kami tidak bisa mewujudkan eliminasi TBC hanya mengandalkan sektor kesehatan. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, dunia usaha, hingga masyarakat. Dengan semangat kolaborasi melalui Kelurahan Siaga TBC, saya optimistis upaya penemuan kasus, pendampingan pasien, dan pencegahan penularan dapat berjalan lebih efektif,” katanya.
Aziz juga mengajak kalangan industri di Kota Cilegon berpartisipasi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), edukasi kesehatan bagi pekerja, hingga kegiatan promotif dan preventif di lingkungan masyarakat. Ia turut mengingatkan camat, lurah, kepala puskesmas, dan kader kesehatan agar program tersebut berjalan secara berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial.
“Kami juga mengajak seluruh pelaku industri di Kota Cilegon untuk mengambil peran dalam upaya pengendalian TBC melalui program CSR, edukasi kesehatan kepada para pekerja ataupun kegiatan lainnya yang melibatkan masyarakat. Jadikan Kelurahan Siaga TBC ini sebagai gerakan yang hidup di tengah masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Cilegon, dr. Gigih Ratih Purnamasari, menjelaskan pembentukan Kelurahan Siaga TBC merupakan salah satu strategi percepatan eliminasi tuberkulosis melalui pendekatan berbasis masyarakat dan kolaborasi lintas sektor.
“TBC masih menjadi tantangan kesehatan yang harus kita hadapi bersama. Percepatan eliminasi TBC tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja, tetapi memerlukan komitmen dan kolaborasi lintas sektor hingga ke tingkat kelurahan,” ujarnya.
Gigih mengungkapkan, Kota Cilegon saat ini masuk dalam 10 besar daerah dengan capaian penemuan kasus TBC terbaik di Indonesia. Dari seluruh kasus yang berhasil ditemukan, sekitar 80 persen merupakan warga Kota Cilegon, sedangkan 20 persen lainnya berasal dari luar daerah yang memanfaatkan layanan kesehatan di Kota Cilegon.
Ia juga mengingatkan bahwa satu penderita TBC yang tidak menjalani pengobatan hingga tuntas berpotensi menularkan penyakit kepada sekitar 15 orang. Oleh karena itu, dukungan seluruh pihak sangat diperlukan agar setiap pasien menyelesaikan pengobatan sesuai standar, yakni minimal selama enam bulan.
“Kick off ini bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi menjadi titik awal untuk memperkuat komitmen dan kerja bersama. Keberhasilan Kelurahan Siaga TBC bergantung pada kolaborasi pemerintah, dunia usaha, tenaga kesehatan, kader, dan seluruh masyarakat dalam mewujudkan Kota Cilegon yang bebas TBC,” pungkasnya.















