SERANG, RUBRIKBANTEN – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten terus berupaya mengikis ketimpangan pelayanan kesehatan antara wilayah melalui program unggulan “Banten Sehat”. Program ini difokuskan pada pemerataan fasilitas kesehatan, penguatan rumah sakit rujukan, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta perluasan jaminan kesehatan masyarakat.
Sebelum program ini berjalan, masyarakat di wilayah selatan Banten, seperti di pelosok Kabupaten Lebak dan Pandeglang, harus menempuh jarak puluhan kilometer untuk mendapatkan pelayanan medis lanjutan. Bahkan, warga di kawasan Cilograng, Bayah, dan Cibeber lebih sering berobat ke rumah sakit di Pelabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat, karena kendala geografis dan jarak yang lebih dekat.
Gubernur Banten, Andra Soni, menegaskan bahwa kesehatan merupakan hak dasar masyarakat yang wajib dipenuhi oleh negara melalui layanan yang bermutu dan mudah diakses.
“Pemerintah berkomitmen untuk melindungi kesehatan masyarakat. Pembangunan kesehatan bukan sekadar soal ketersediaan fasilitas, melainkan bagaimana mewujudkan keadilan akses dan keberlanjutan layanan. Kita ingin seluruh masyarakat Banten mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak,” ujar Andra Soni.
Sebagai langkah konkret, Pemprov Banten telah mengoperasikan dua rumah sakit baru sejak tahun 2025, yaitu RSUD Muhammad Irsyad Djuwaeli Labuan di Kabupaten Pandeglang dan RSUD Uwes Qorny Cilograng di Kabupaten Lebak. Kehadiran kedua rumah sakit ini bertujuan memangkas waktu tempuh warga dalam situasi gawat darurat, khususnya untuk pelayanan ibu, anak, dan penyakit prioritas.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Ati Pramudji Astuti, menjelaskan bahwa Program Banten Sehat dirancang secara menyeluruh dari hulu ke hilir. Pelayanan yang diperkuat meliputi kesehatan ibu dan anak, perbaikan gizi masyarakat, pengendalian tuberkulosis, penanganan penyakit tidak menular, distribusi obat, hingga pemenuhan tenaga kesehatan spesialis.
Didukung Ratusan Tenaga Medis dan Layanan Spesialistik
Guna menunjang operasional, Pemprov Banten menempatkan ratusan tenaga medis di empat rumah sakit milik provinsi. Saat ini, RSUD Banten didukung oleh 37 dokter umum, 43 dokter spesialis, dan 13 dokter subspesialis. Sementara itu, RSUD Malingping diperkuat oleh 8 dokter umum dan 26 dokter spesialis, RSUD Labuan memiliki 24 dokter umum dan 18 dokter spesialis, serta RSUD Cilograng didukung oleh 19 dokter umum dan 20 dokter spesialis.
Untuk meningkatkan retensi dan kompetensi dokter, pemerintah daerah juga menyediakan insentif, fasilitas mes dokter, program penugasan khusus, serta menjalin kerja sama dengan institusi pendidikan untuk pengembangan program dokter spesialis di Banten.
Kelengkapan layanan di masing-masing rumah sakit juga terus ditingkatkan. RSUD Banten, memiliki 31 poliklinik dengan layanan unggulan Bedah Digestif, Bedah Onkologi, Bedah Vaskular, Bedah Anak, Fertilitas Reproduksi, Neonatologi, Jantung Anak, Ginjal Hipertensi, layanan cath lab jantung, hingga code stroke. RSUD Malingping, menyediakan 12 poliklinik dengan keunggulan di bidang kesehatan ibu, anak, dan neurologi. RSUD Cilograng, menyediakan 12 poliklinik dan dikembangkan sebagai pusat layanan geriatri bagi lansia. RSUD Labuan, memiliki 11 poliklinik dengan fokus pada layanan kesehatan ibu dan anak.
Inovasi Klinik Mobile untuk Daerah Terpencil
Selain fasilitas statis, Pemprov Banten mengoperasikan tiga unit Klinik Mobile untuk menjangkau daerah terpencil, pesisir, dan kepulauan di wilayah Pandeglang, Lebak, dan Serang. Setiap unit armada ini diperkuat oleh dokter umum, perawat, dan apoteker.
Klinik bergerak ini dilengkapi dengan fasilitas penunjang seperti alat USG, EKG, x-ray, laboratorium mini, serta layanan telemedicine yang terhubung langsung dengan dokter spesialis. Layanan pemeriksaan dan pemberian obat melalui Klinik Mobile ini diberikan secara gratis.
Respons dan Harapan Masyarakat
Pembangunan fasilitas kesehatan ini mendapatkan respons positif dari warga setempat. Ketua Adat Kesepuhan Neglasari Cilograng, Abah Omik (50), menyatakan keberadaan RSUD Cilograng sangat memangkas waktu tempuh warga yang sebelumnya harus berkendara selama satu jam ke Pelabuhanratu atau RSUD Malingping jika membutuhkan penanganan darurat. Namun, ia berharap pemerintah terus melengkapi fasilitas poliklinik yang ada agar pelayanan semakin optimal.
Hal senada disampaikan oleh Aldi Kusuma (29), warga Desa Babadsari, Kecamatan Jiput, Pandeglang. Ia mengaku kini lebih mudah membawa anggota keluarganya berobat tanpa harus menuju Kota Serang.
“Sekarang cuma lima menit ke RSUD Labuan. Pelayanannya ramah dan responsnya cepat. Harapan kami ke depan, kapasitas Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Labuan bisa diperluas karena saat ini kondisinya sering penuh,” pungkas Aldi. (ADV)















