CILEGON, RUBRIKBANTEN – Krisis air bersih yang melanda Lingkungan Gunung Batur, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, kian memprihatinkan. Selama empat bulan terakhir, warga terpaksa berjalan kaki hingga satu kilometer menembus kawasan hutan demi mendapatkan air bersih. Bahkan, untuk mengisi satu galon air, mereka harus menunggu hingga tiga jam karena debit sumber air yang terus menyusut akibat kemarau berkepanjangan.
Kondisi kekeringan membuat sejumlah mata air dan aliran sungai di kawasan tersebut mengering. Akibatnya, warga harus berburu sumber air yang masih tersisa di tengah kawasan hutan, baik dengan berjalan kaki maupun menggunakan sepeda motor.
Salah seorang warga, Ma’iah, mengatakan dirinya memanfaatkan sumur kecil di aliran sungai yang kini dipenuhi semak belukar. Air yang didapat berasal dari resapan tanah dan akar-akar tumbuhan hutan, karena hampir seluruh sumber mata air di wilayah tersebut telah mengering.
Di lokasi itu, warga harus bergantian mengisi jeriken dan galon yang dibawa dari rumah. Debit air yang sangat kecil membuat mereka harus menunggu hingga tiga jam hanya untuk mendapatkan satu galon air.
Tak jarang, warga tetap membawa pulang air yang kondisinya keruh karena tidak memiliki pilihan lain. Air tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi, mencuci, memasak hingga air minum.
Warga lainnya, Jamiah, mengaku sering menghabiskan waktu hingga bermalam di lokasi sumber air agar bisa mendapatkan giliran lebih cepat. Menurutnya, kondisi ini sudah berlangsung selama berbulan-bulan dan semakin menyulitkan kehidupan masyarakat.
Warga berharap Pemerintah Kota Cilegon segera memberikan solusi jangka panjang, termasuk penyediaan jaringan air bersih dan penambahan bantuan distribusi air bersih. Mereka menilai bantuan yang selama ini diberikan masih belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama saat musim kemarau yang berkepanjangan.















