SERANG, RUBRIKBANTEN – Ribuan warga di wilayah Kecamatan Bojonegara dan Puloampel, Kabupaten Serang, harus menjalani sahur dalam kondisi memprihatinkan setelah banjir kembali merendam permukiman mereka sejak dini hari.
Koordinator Presidium Gerakan Masyarakat Bojonegara Puloampel (GEMA BP), Ari Dailami, menyampaikan keprihatinan mendalam atas banjir yang menurutnya terus berulang setiap tahun tanpa penanganan yang menyentuh akar persoalan.
Menurut Ari, banjir yang terjadi bukan sekadar dampak cuaca ekstrem, melainkan akumulasi dari persoalan tata ruang, kerusakan lingkungan, hingga buruknya infrastruktur di wilayah tersebut.
“Ribuan warga terpaksa sahur dalam kondisi rumah terendam air. Ini sangat ironis. Di bulan suci Ramadan, warga justru harus berjibaku dengan banjir. Kami menilai pemerintah abai terhadap kondisi ini,” ujar Ari dalam keterangannya.
Warga Terdampak Belum Terima Bantuan Memadai
GEMA BP juga menyoroti lambatnya respons pemerintah daerah dalam memberikan bantuan darurat bagi warga terdampak.
Ari menyebut hingga saat ini bantuan logistik yang memadai bagi masyarakat yang rumahnya terendam banjir belum terlihat secara signifikan.
“Kami sangat kecewa. Saat warga menghadapi situasi darurat, bantuan yang datang justru sangat lambat. Ini menunjukkan adanya pengabaian terhadap kebutuhan dasar masyarakat Bojonegara dan Puloampel,” katanya.
Surat Audiensi ke Pemprov Banten Tak Digubris
Ari menegaskan bahwa pihaknya sebenarnya sudah berupaya melakukan komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Banten jauh sebelum banjir terjadi.
Namun upaya tersebut, kata dia, tidak mendapat respons dari pemerintah.
GEMA BP mencatat telah dua kali mengirimkan surat resmi kepada Pemprov Banten, yakni pada Desember 2025 berupa permohonan Focus Group Discussion (FGD) kepada Sekretaris Daerah Provinsi Banten, serta pada Februari 2026 berupa permohonan audiensi langsung dengan Gubernur Banten.
“Kami sudah melayangkan surat dua kali untuk menawarkan solusi mitigasi bencana. Tapi tidak ada tanggapan. Baik Sekda maupun Gubernur memilih bungkam. Akibatnya rakyat yang harus menanggung banjir hari ini,” tegas Ari.
Empat Penyebab Utama Banjir
Dalam analisis GEMA BP, terdapat empat faktor utama yang menjadi penyebab banjir di wilayah Bojonegara dan Puloampel.
Pertama, buruknya sistem drainase yang tidak terintegrasi di kawasan permukiman dan industri. Kedua, kondisi Jalan Nasional Serdang–Bojonegara–Merak (SBM) yang sempit dan tidak dilengkapi drainase yang memadai.
Ketiga, degradasi lingkungan akibat aktivitas pertambangan di wilayah perbukitan yang dinilai memicu aliran air permukaan langsung ke permukiman warga. Keempat, tata ruang yang dinilai tidak terkendali karena pemberian izin industri dan pertambangan yang tidak sejalan dengan daya dukung lingkungan.
Tuntut Solusi Nyata
GEMA BP mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mencegah banjir terus berulang.
Beberapa tuntutan yang disampaikan antara lain percepatan perluasan Jalan Nasional Serdang–Bojonegara–Merak beserta pembangunan sistem drainase yang memadai, moratorium izin tambang di wilayah perbukitan, serta audit lingkungan terhadap perusahaan tambang.
Selain itu, GEMA BP juga meminta pemerintah melakukan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) agar pembagian zona industri, permukiman, dan kawasan lindung lebih jelas.
“Kami tidak butuh kunjungan seremonial. Yang dibutuhkan warga adalah solusi nyata dan dialog terbuka dengan pemerintah untuk menyelesaikan persoalan ini secara permanen,” pungkas Ari.















