Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Banner Atas Rubrik Banten
BeritaDaerahKementerianNasionalOpiniOrganisasiPemerintahPendidikanPolitikSosial

Qurban dan Sunyi yang Disembelih

25
×

Qurban dan Sunyi yang Disembelih

Sebarkan artikel ini

Oleh Arifin Al Bantani

Pada setiap Idul Adha, gema takbir melangit dari masjid ke masjid, seakan langit sedang dibukakan pintunya bagi kerinduan manusia kepada Tuhan. Orang-orang mengenakan pakaian terbaiknya, halaman-halaman dipenuhi hewan qurban, dan pisau-pisau diasah dengan khidmat. Namun, di tengah semua itu, ada satu pertanyaan yang jarang benar-benar diajukan: sesungguhnya, apa yang sedang disembelih manusia?

Banner

Sebab qurban, bukan hanya tentang darah yang jatuh ke tanah. Ia berasal dari kata qaruba—dekat. Maka qurban pada hakikatnya adalah perjalanan mendekat. Sebuah perjalanan sunyi seorang hamba menuju Allah, dengan membawa seluruh luka, cinta, dan keterikatan yang selama ini membuat jiwanya berat meninggalkan dunia.

Tetapi manusia modern hidup dalam zaman yang gaduh. Dunia hari ini terlalu bising untuk mendengar suara batin sendiri. Kita dikepung oleh hasrat untuk memiliki, dipuji, dan diakui. Bahkan keshalehan pun terkadang berubah menjadi pertunjukan. Kebaikan dipotret, ibadah dipamerkan, dan pengorbanan diam-diam kehilangan keheningannya. Manusia semakin pandai memperlihatkan sesuatu, tetapi perlahan lupa bagaimana mengikhlaskan sesuatu.

Di situlah qurban menjadi seperti cermin tua yang diam-diam memantulkan wajah manusia yang sebenarnya.

Baca juga:  Jelang Nataru, Wagub Banten Turun ke Pasar: Harga Bapok Belum Sepenuhnya Aman, Negara Diminta Hadir Lebih Keras

Kisah Nabi Ibrahim sesungguhnya bukan hanya kisah kepatuhan seorang nabi terhadap perintah langit. Ia adalah kisah tentang keberanian mencintai Allah melebihi apa pun di dunia. Dan bukankah itu perkara paling sulit bagi manusia? Sebab setiap orang memiliki “Ismail”-nya sendiri—sesuatu yang begitu dicintai, dipertahankan, dan sukar dilepaskan.

Bagi sebagian orang, Ismail itu adalah harta.

Bagi yang lain, ia bernama ambisi, jabatan, atau kebanggaan diri.

Ada pula yang menjadikan dirinya sendiri sebagai sesembahan paling tersembunyi.

Karena itu, para sufi tidak memandang qurban semata-mata sebagai penyembelihan hewan, melainkan penyembelihan ego. Sebab yang paling liar dalam diri manusia bukan kambing atau sapi, tetapi nafsunya sendiri. Nafsu untuk merasa paling benar. Nafsu untuk dipuji. Nafsu untuk memiliki dunia tanpa batas.

Dan betapa sering manusia gagal menyembelih itu semua.

Kita hidup di zaman ketika orang rela kehilangan uang, tetapi tidak rela kehilangan gengsi. Rela berbagi makanan, tetapi enggan berbagi maaf. Rela mengorbankan waktu demi pekerjaan, tetapi terlalu pelit mengorbankan ego demi menjaga sesama manusia tetap utuh hatinya.

Baca juga:  Data UMKM Cilegon Disorot, Dinas Akui Belum Terintegrasi

Padahal, qurban sejati selalu menuntut sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar materi: ia meminta manusia merelakan dirinya sendiri.

Dalam tradisi tasawuf, kedekatan kepada Allah tidak pernah diukur dari banyaknya ritual semata, melainkan dari sejauh mana hati menjadi bersih dari selain-Nya. Sebab Tuhan tidak memerlukan daging yang dibakar atau darah yang ditumpahkan. Yang sampai kepada-Nya hanyalah ketakwaan—sesuatu yang tumbuh diam-diam dalam relung jiwa yang ikhlas.

Maka setiap tetes darah qurban sesungguhnya sedang mengajarkan kefanaan. Bahwa segala yang dimiliki manusia pada akhirnya hanyalah titipan. Bahwa hidup bukan tentang seberapa erat menggenggam, melainkan seberapa tulus melepaskan.

Dan mungkin, di situlah rahasia terdalam qurban: ia mengajarkan bahwa kehilangan tidak selalu berarti kesedihan. Ada kehilangan yang justru membuka jalan bagi perjumpaan paling intim antara manusia dan Tuhannya.

Karena hanya mereka yang berani mengorbankan egonya yang akan benar-benar sampai kepada cinta.

Example 120x600
Untitled-1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!