CILEGON, RUBRIKBANTEN – Lonjakan arus mudik dan balik Lebaran 2026 di lintasan penyeberangan Selat Sunda berdampak pada meningkatnya antrean kapal untuk sandar di Pelabuhan Merak. Kondisi ini membuat waktu tunggu kapal lebih lama, sehingga penumpang diminta tetap tenang dan memahami situasi operasional di lapangan.
Kapten Kapal Royce I di bawah naungan PT Damai Lintas Bahari, Capt Amir Ansori, mengungkapkan bahwa jumlah muatan tahun ini tidak mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu penyebabnya adalah adanya pembagian arus penyeberangan ke tiga pelabuhan.
“Kalau kita lihat kondisi muatan tahun ini memang tidak terlalu signifikan dibandingkan tahun kemarin. Salah satu penyebabnya karena adanya pembagian ke tiga pelabuhan,” ujarnya.
Di Pelabuhan Ciwandan, jumlah trip kapal mengalami penurunan cukup drastis. Dalam sehari, hanya sekitar tiga trip yang beroperasi. Untuk sekali muat, kapal dapat mengangkut maksimal sekitar 1.640 unit sepeda motor, dengan estimasi sekitar 3.000 penumpang per trip.
“Kalau dikalikan dengan hari operasional, misalnya 10 hari, total penumpang bisa mencapai 30.000 sampai 36.000 orang,” jelasnya.
Sementara itu, di Pelabuhan Merak, jumlah trip kapal dalam kondisi normal bisa mencapai delapan trip atau empat kali pulang-pergi per hari. Namun saat momen Lebaran, banyak kapal dialihkan ke Merak untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan.
Jumlah armada pun meningkat dari sekitar 52 kapal menjadi 57 kapal. Kondisi ini berdampak pada kepadatan dermaga.
“Biasanya satu dermaga diisi empat kapal, sekarang dipaksakan menjadi lima kapal. Akibatnya, kapal harus antre untuk sandar karena kapasitas terbatas,” terang Capt Amir.
Ia menjelaskan, kapal yang datang belakangan harus menunggu giliran sandar dengan waktu tunggu yang bervariasi, terutama saat puncak arus mudik dan balik Lebaran.
Menurutnya, kebijakan ini merupakan bagian dari strategi untuk mengurangi kemacetan di area pelabuhan.
“Kendaraan sengaja ditahan di kapal agar tidak menumpuk di darat. Kalau macet di darat, dampaknya bisa lebih luas ke jalan umum,” katanya.
Namun demikian, kondisi ini kerap menimbulkan ketidaknyamanan bagi penumpang yang harus menunggu lebih lama di atas kapal. Bahkan, tidak sedikit yang menyampaikan keluhan kepada kru kapal.
Capt Amir menegaskan bahwa pengaturan sandar sepenuhnya menjadi kewenangan pihak pelabuhan, bukan operator kapal.
“Kami hanya menjalankan instruksi. Jadwal sandar dan pembagian dermaga ditentukan oleh pihak pelabuhan. Kalau belum ada dermaga kosong, kami harus menunggu,” tegasnya.
Ia pun mengimbau masyarakat agar dapat memahami situasi tersebut dan tetap menjaga ketertiban selama berada di atas kapal.
“Kami mengajak penumpang untuk tetap tertib, tidak mudah terpancing emosi, dan tidak mengganggu kenyamanan penumpang lain, seperti membunyikan klakson berlebihan,” imbaunya.
Menurutnya, dalam kondisi lonjakan penumpang seperti saat Lebaran, kepadatan memang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, kerja sama dari semua pihak sangat dibutuhkan demi kelancaran perjalanan.
“ Mari kita sama-sama mengikuti aturan yang ada demi kelancaran dan kenyamanan bersama,” pungkasnya.















