CILEGON, RUBRIKBANTEN — Tingginya animo mahasiswa mengikuti program Beasiswa Cilegon Juare mendapat perhatian dari Dewan Pendidikan Kota Cilegon. Di tengah keterbatasan kuota dan kemampuan anggaran pemerintah, kalangan industri didorong ikut memperluas akses bantuan pendidikan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
Ketua Dewan Pendidikan Kota Cilegon, Syaeful Bahri, mengatakan tingginya jumlah pendaftar menunjukkan masih besarnya semangat generasi muda Cilegon untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Menurutnya, jumlah pendaftar tahun ini bahkan telah melampaui periode sebelumnya, meski proses pendaftaran baru berjalan sekitar satu pekan.
“Ini kita apresiasi. Maknanya ternyata anak-anak ingin mengembangkan dirinya dengan mengikuti pendidikan tinggi,” ujar Syaeful.
Sebelumnya, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kota Cilegon, Rahmatullah, menyebut sebanyak 1.146 mahasiswa telah mendaftar Beasiswa Cilegon Juare. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah hingga proses pendaftaran ditutup.
Data pendaftar selanjutnya akan direkap dan diverifikasi sebelum dibahas oleh tim yang menangani proses seleksi.
“Setelah tanggal 10 nanti kita rapatkan di panset. Akan dilakukan penentuan siapa saja yang menjadi penerima Beasiswa Cilegon Juare,” kata Rahmatullah.
Dalam proses seleksi, Pemkot Cilegon mempertimbangkan sejumlah aspek, di antaranya kesesuaian program studi dengan kebutuhan dunia industri, kearifan lokal, kebutuhan wilayah, serta prestasi mahasiswa.
Untuk prestasi nonakademik, calon penerima dapat melampirkan sertifikat atau piagam penghargaan sebagai bukti capaian. Prestasi tersebut menjadi salah satu nilai tambah dalam pemeringkatan.
Rahmatullah sebelumnya juga menjelaskan bahwa penerima beasiswa memiliki kewajiban mempertahankan capaian akademik. Mahasiswa perguruan tinggi negeri diwajibkan mempertahankan IPK minimal 3,30, sementara keberlanjutan bantuan juga dievaluasi berdasarkan ketentuan yang berlaku bagi mahasiswa perguruan tinggi swasta.
Jika tidak mampu memenuhi ketentuan akademik, bantuan beasiswa dapat dihentikan.
Kembali menyoroti tingginya animo pendaftar, Syaeful mengatakan kondisi tersebut semestinya menjadi perhatian bersama. Sebab, kebutuhan masyarakat terhadap dukungan biaya pendidikan dinilai masih jauh lebih besar dibandingkan kemampuan anggaran pemerintah.
Karena itu, ia mendorong perusahaan yang beroperasi di Kota Cilegon untuk memperkuat dukungan terhadap sektor pendidikan melalui CSR.
“Kita berharap industri-industri, CSR-nya bisa dititipkan untuk pendidikan agar yang tidak memungkinkan diterima karena kuota APBD minim atau karena faktor desil tetap bisa mendapatkan kesempatan,” katanya.
Syaeful menilai terdapat calon mahasiswa yang secara akademik maupun prestasi memiliki potensi, tetapi berpotensi tidak terakomodasi karena keterbatasan kuota maupun pertimbangan kondisi sosial ekonomi yang menjadi bagian dari mekanisme seleksi.
Menurutnya, kondisi tersebut membuka ruang bagi perusahaan, pengusaha, maupun pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan untuk ikut membantu mahasiswa yang belum mendapatkan dukungan dari anggaran pemerintah.
Tak Sekadar Biayai Kuliah
Selain memperluas akses pembiayaan, Dewan Pendidikan juga mendorong agar penerima Beasiswa Cilegon Juare tidak berhenti sebagai penerima bantuan.
Syaeful berharap mahasiswa penerima beasiswa dapat mendapatkan pendampingan sekaligus ruang untuk berkontribusi terhadap pembangunan Kota Cilegon.
“Kita coba dampingi. Kita juga adakan semacam kegiatan karena mereka nanti akan di-OSPEK di masing-masing kampus. Kita berharap mereka menjadi aset pendidikan kita,” ujarnya.
Menurutnya, mahasiswa penerima beasiswa dapat diarahkan menjadi bagian dari sumber daya manusia yang mendukung kebutuhan pembangunan daerah melalui kegiatan sukarela, riset, maupun kolaborasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD).
Ia mencontohkan kebutuhan tenaga sukarelawan untuk membantu kegiatan riset di sejumlah instansi. Mahasiswa dapat dilibatkan sesuai kompetensi dan bidang keilmuan masing-masing.
“Kalau ada dinas yang membutuhkan volunteer, sukarelawan untuk riset, maka kita bisa menggerakkan mereka yang sudah menerima beasiswa,” katanya.
Syaeful juga mengingatkan mahasiswa yang nantinya terpilih agar menggunakan bantuan tersebut secara bijak. Menurutnya, beasiswa pemerintah bersumber dari uang masyarakat sehingga penggunaannya harus dapat dipertanggungjawabkan.
“Jangan foya-foya. Gunakanlah dengan baik,” tegasnya.
Ia meminta penerima beasiswa menjaga sikap sebagai mahasiswa dengan menjunjung tinggi etika akademik, berpikir kritis dan rasional, serta menghindari gaya hidup hedonis.
“Keberuntungan ini jangan justru digunakan untuk melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan karakter penerima beasiswa. Anda sebagai mahasiswa harus menjunjung tinggi sikap akademik, kritis, tetap santun dan menghindari hidup hedon,” tuturnya.
Syaeful menegaskan, penerima Beasiswa Cilegon Juare harus memahami bantuan tersebut sebagai amanah masyarakat. Terlebih, masih banyak mahasiswa lain yang membutuhkan dukungan biaya pendidikan.
“Yang harus diingat, Anda dibiayai oleh uang rakyat. Kalau uang itu kemudian dipakai untuk hal yang tidak benar, itu menodai dan mengkhianati amanat masyarakat. Karena masyarakat yang membutuhkan beasiswa sebenarnya luar biasa banyak. Jangan sia-siakan,” pungkasnya.















