SERANG, RUBRIKBANTEN – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten berencana melanjutkan revitalisasi situs peninggalan Kesultanan Banten sebagai langkah strategis untuk menggenjot pariwisata di kawasan Banten Lama. Kawasan ini selama ini dikenal sebagai destinasi wisata budaya, sejarah, dan religi yang memiliki daya tarik kuat.
Rencana tersebut diungkapkan Gubernur Banten Andra Soni saat menghadiri Haul Agung Sultan Maulana Hasanuddin di Masjid Agung Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Senin malam (30/3/2026).
Dalam kesempatan itu, Andra Soni mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersinergi mendukung program revitalisasi tersebut. Ia menegaskan, pelestarian warisan Kesultanan Banten tidak hanya menjaga sejarah, tetapi juga menjadi kunci memperkuat identitas daerah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor pariwisata.
“Program revitalisasi ini untuk meningkatkan potensi peninggalan Kesultanan Banten. Pemprov Banten terus mendukung pelestarian budaya sekaligus memperkokoh persatuan menuju provinsi yang maju, adil merata, dan bebas korupsi,” ujar Andra.
Ia juga menyoroti keteladanan Sultan Maulana Hasanuddin sebagai pendiri Kesultanan Banten dan tokoh penting dalam sejarah penyebaran Islam di wilayah tersebut. Di bawah kepemimpinannya, Banten berkembang menjadi pelabuhan besar yang menjadi simpul perdagangan internasional, menghubungkan India, Arab, China, hingga Nusantara.
Momentum haul, lanjutnya, menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat untuk meneladani nilai perjuangan, kepemimpinan, dan persatuan dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono yang turut hadir menilai Haul Agung Sultan Maulana Hasanuddin layak didorong menjadi agenda nasional. Menurutnya, kegiatan tersebut berpotensi besar menarik wisatawan dari luar daerah sekaligus mengangkat kembali kejayaan sejarah Banten.
“Sultan Maulana Hasanuddin adalah jejak sejarah yang harus kita jaga dan ambil hikmahnya,” ujarnya.
Agus juga memaparkan konsep tiga pilar yang diwariskan Sultan Hasanuddin dalam tata kelola masyarakat, yakni politik yang disimbolkan Istana Surosowan, spiritual melalui Masjid Agung Banten, serta ekonomi melalui Pelabuhan Karangantu.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut relevan untuk terus dihidupkan sebagai fondasi membangun bangsa yang berkarakter dan berdaya saing.
“Momentum haul ini harus menjadi penguat jati diri bangsa agar kita menjadi bangsa yang besar dan hebat,” pungkasnya.















