CILEGON, RUBRIKBANTEN – Antusiasme masyarakat Kota Cilegon mengikuti program pelatihan kerja disebut cukup tinggi. Baru memasuki hari ketiga pendaftaran, jumlah calon peserta telah mencapai sekitar 340 orang, jauh melampaui kuota gelombang pertama yang hanya menampung 225 peserta.
Tingginya jumlah pendaftar tersebut sempat membuat pendaftaran ditutup oleh Balai Latihan Kerja (BLK), selaku penyelenggara program. Kondisi itu kemudian mendapat sorotan dari sejumlah tokoh dan aktivis karena dalam pengumuman awal tercantum batas pendaftaran hingga 4 Oktober 2026.
Ketua Dewan Pendidikan Kota Cilegon, Syaeful Bahri, mengatakan persoalan tersebut bukan semata-mata mengenai jumlah pendaftar yang membludak, melainkan bagaimana antusiasme masyarakat tetap dapat diakomodasi.
“Poinnya adalah antusias masyarakat ini jangan dibatasi. Kalau kuotanya hanya setengahnya, berarti setengahnya lagi kalau memenuhi syarat bisa untuk gelombang kedua,” kata Syaeful saat diwawancarai rubrilbanten.com, Senin (28/9/2026).
Menurutnya, masyarakat yang hendak mendaftar juga tidak mengetahui secara pasti berapa jumlah kuota yang tersedia. Sementara dalam pengumuman, pendaftaran disebut dibuka sampai 4 Oktober dengan klausul dapat ditutup apabila kuota telah terpenuhi.
“Calon pendaftar kan tidak tahu kuotanya berapa. Apalagi ini baru hari ketiga. Tanggal 4 Oktober masih lama,” ujarnya.
Syaeful menjelaskan, kuota 225 peserta tersebut merupakan kapasitas gelombang pertama yang ditentukan oleh pihak BLK. Sementara Dewan Pendidikan dan pihak terkait lainnya hanya memiliki akses untuk memantau jumlah pendaftar.
“Yang bisa membuka dan menutup aplikasi itu BLK, bukan panitia. Panitia hanya diberi akses untuk melihat berapa jumlah pendaftar,” jelasnya.
Ia menyebut, pada Minggu jumlah pendaftar masih berada di kisaran 200 orang lebih. Namun, ketika dilakukan pengecekan pada Senin pagi, jumlahnya telah melonjak menjadi sekitar 340 hingga 341 pendaftar.
“Awalnya hari Minggu masih 200-an, belum sampai 240. Ternyata pagi sudah 340. Ini yang cukup mengejutkan, baru tiga hari sudah membludak,” katanya.
Setelah mendapat masukan, lanjut Syaeful, pihak BLK akhirnya kembali membuka pendaftaran. Masyarakat yang sebelumnya belum sempat mendaftar masih diberikan kesempatan untuk memasukkan data.
“Alhamdulillah, tadi sudah ada respons dari pihak balai. Sekarang sudah dibuka lagi, silakan bagi yang mau mendaftar,” ujarnya.
Syaeful mengatakan, tingginya jumlah pendaftar juga membuka kemungkinan penyelenggaraan pelatihan dalam gelombang berikutnya. Sebab, apabila seluruh peserta memenuhi persyaratan, jumlah pendaftar saat ini bahkan telah melampaui kapasitas satu gelombang.
“Bagi yang masih berminat, silakan tetap mendaftar. Nanti bisa kita agendakan untuk gelombang kedua,” katanya.
Pelatihan Terbuka untuk Pencari Kerja
Syaeful menjelaskan, program pelatihan tersebut ditujukan bagi masyarakat yang berstatus pencari kerja dengan persyaratan yang relatif terbuka.
Peserta setidaknya berusia 17 tahun. Bahkan, masyarakat yang tidak memiliki latar belakang pendidikan tertentu tetap dapat mengikuti pelatihan selama memenuhi ketentuan sebagai pencari kerja dan bersedia mengikuti kegiatan secara bertanggung jawab.
Dalam program tersebut terdapat sejumlah kelas, di antaranya kelas untuk pelaku UMKM, kelas bagi lulusan sarjana, serta kelas umum.
“Tidak ada syarat khusus seperti harus menyediakan sertifikat. Bebas, yang penting pencari kerja dan bertanggung jawab mengikuti pelatihan,” ujarnya.
Materi yang diberikan juga lebih banyak bersifat praktik. Peserta akan mendapatkan pembekalan mengenai riset pasar, pemasaran digital, pembuatan konten hingga pemasaran melalui sistem afiliasi.
“Sekitar 90 persen praktik,” katanya.
Untuk kelas afiliasi, peserta diarahkan memahami cara memasarkan produk milik pihak lain melalui pembuatan konten digital. Peserta nantinya dapat memperoleh pendapatan berupa fee dari produk yang berhasil dipasarkan.
Sementara untuk kelas digital marketing, pelatihan diarahkan membantu pelaku UMKM memasarkan produknya secara lebih luas melalui platform digital.
“Misalnya ada pelaku UMKM yang punya produk emping atau makanan lainnya. Dengan pelatihan ini, mereka bisa belajar pemasaran digital dan membuat video atau konten produk yang lebih bagus,” jelas Syaeful.
Ia berharap tingginya minat masyarakat terhadap program tersebut menjadi bahan evaluasi agar kapasitas pelatihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pencari kerja di Kota Cilegon.















