CILEGON, RUBRIKBANTEN — Kepala Dinas Kesehatan Kota Cilegon, drg. Hj. Ratih Purnamasari, mengungkapkan bahwa tren kasus HIV di Kota Cilegon masih didominasi oleh kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL). Temuan ini menjadi perhatian serius karena berkaitan erat dengan perilaku seksual berisiko yang terus memicu penularan.
Sepanjang tahun 2025, Dinas Kesehatan mencatat sebanyak 100 kasus baru HIV. Angka tersebut merupakan temuan kasus baru dan tidak digabungkan dengan kasus lama maupun penderita yang telah memasuki stadium AIDS. Pada periode yang sama, juga ditemukan sejumlah kasus yang berkembang menjadi AIDS serta 6 kasus kematian.
Memasuki tahun 2026 hingga Februari, tercatat 16 kasus baru HIV. Dari jumlah tersebut, setengahnya atau 8 kasus berasal dari kelompok LSL. Sementara itu, 1 kasus berasal dari pelanggan pekerja seks, 1 kasus dari pasangan orang dengan HIV, serta 2 kasus dari populasi umum yang tidak teridentifikasi faktor risikonya.
“Dari data awal tahun ini terlihat bahwa kelompok LSL masih menjadi penyumbang terbesar kasus HIV baru. Ini menjadi indikator bahwa perilaku seksual berisiko masih tinggi,” ujar Ratih saat diwawancarai awak media, Selasa (31/3/2026).
Selain itu, ditemukan pula 1 kasus HIV dengan komplikasi Tuberkulosis (TBC) serta 3 kasus yang telah memasuki tahap AIDS dengan Infeksi Menular Seksual (IMS). Ratih menjelaskan bahwa HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga penderitanya sangat rentan terhadap infeksi lain.
Secara kumulatif, sejak tahun 2005 hingga Februari 2026, total kasus HIV/AIDS di Kota Cilegon mencapai 1.484 kasus, dengan rincian 1.060 kasus pada laki-laki dan 424 kasus pada perempuan. Mayoritas kasus berada pada kelompok usia produktif 20–49 tahun, meski penularan pada anak juga ditemukan akibat transmisi dari ibu ke anak.
Dinas Kesehatan menegaskan bahwa dominasi kasus pada kelompok LSL tidak bisa dilepaskan dari faktor perilaku, seperti hubungan seksual tanpa pengaman dan berganti pasangan. Oleh karena itu, upaya pencegahan terus digencarkan melalui berbagai program, seperti Mobile VCT (tes HIV langsung ke lapangan), sosialisasi di sekolah dan perusahaan, hingga pendekatan komunitas untuk menjangkau kelompok berisiko.
“Kami tidak hanya fokus pada penanganan, tetapi juga edukasi. Pencegahan harus dimulai dari kesadaran individu, keluarga, hingga lingkungan,” tegasnya.
Selain itu, skrining ibu hamil juga terus dilakukan untuk mencegah penularan dari ibu ke anak, serta kampanye Hari AIDS Sedunia setiap 1 Desember sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat.
Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat untuk menghindari perilaku seksual berisiko, menggunakan alat pelindung, serta rutin melakukan pemeriksaan kesehatan. Peran keluarga, pendidikan, dan pendekatan moral juga dinilai penting dalam menekan laju penyebaran HIV di Kota Cilegon.
“Penanganan HIV bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat,” pungkas Ratih.















