Oleh: Arifin Al Bantani
Setiap tanggal 2 Mei, kita seolah dipanggil kembali untuk menengok sebuah wajah di masa lalu: Ki Hadjar Dewantara. Namun, merayakan Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar urusan mengenang biografi atau upacara seremonial yang kaku. Lebih jauh dari itu, ini adalah momen untuk mempertanyakan sejauh mana ruang-ruang kelas kita telah menjadi rahim bagi kemerdekaan berpikir, bukan sekadar pabrik penghasil angka-angka di atas kertas.
Pendidikan sebagai Proses Menjadi
Pendidikan, dalam filosofi Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, bukanlah sebuah proses indoktrinasi satu arah. Ia adalah seni “menuntun”. Sebagaimana seorang petani yang merawat benih, seorang pendidik tidak bisa memaksa benih padi tumbuh menjadi jagung. Tugas pendidikan adalah memastikan tanahnya subur, airnya cukup, dan cahayanya tersedia agar setiap manusia tumbuh sesuai kodrat kemanusiaannya yang unik.
Di era di mana kecerdasan buatan mulai mengambil alih fungsi kognitif, tantangan pendidikan kita bergeser. Kita tidak lagi sekadar membutuhkan manusia yang mahir menghafal, tetapi manusia yang memiliki kedalaman rasa, ketajaman nalar, dan ketangguhan karakter. Pendidikan harus mampu melahirkan individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga “selesai” dengan dirinya sendiri—manusia yang memiliki integritas dan empati sosial yang tinggi.
Memanusiakan Manusia
Sebagai bagian dari elemen Kota Sehat, kita menyadari bahwa kesehatan sebuah bangsa berakar dari kesehatan cara berpikir warganya. Pendidikan yang sehat adalah pendidikan yang memanusiakan manusia (nguwongke). Ia tidak menciptakan kompetisi yang saling menjatuhkan, melainkan kolaborasi yang saling menguatkan.
Sering kali, sistem kita terjebak dalam obsesi terhadap hasil akhir (output) sehingga melupakan keindahan proses. Padahal, inti dari pendidikan adalah perjalanan menemukan jati diri. Sekolah seharusnya menjadi tempat di mana rasa ingin tahu tidak dibunuh oleh tumpukan tugas, dan di mana imajinasi diberi ruang seluas langit untuk terbang.
Harapan untuk Fajar Baru
Harapan kita pada Hari Pendidikan Nasional tahun 2026 ini adalah lahirnya generasi yang tidak hanya mahir mengoperasikan teknologi, tetapi juga bijaksana dalam menggunakannya. Kita merindukan lulusan-lulusan yang memiliki keberanian moral untuk berdiri membela kebenaran dan memiliki kerendahan hati untuk terus belajar seumur hidup.
Sebab, pada akhirnya, gedung sekolah bisa saja megah, namun jika di dalamnya tidak ada nyala api gairah untuk mencari kebenaran, maka ia hanyalah bangunan mati. Mari kita jadikan pendidikan sebagai obor yang menerangi kegelapan kebodohan dan belenggu ketakutan. Mari kita tanam fajar di ladang pikiran anak-anak kita, agar kelak mereka mampu menerangi jalan bagi peradaban yang lebih mulia dan bermartabat.















