SERANG, RUBRIKBANTEN – Data astronomi hilal pada Selasa, 17 Februari 2026, menunjukkan bahwa penentuan awal bulan suci Ramadan 1447 Hijriah belum dapat dilakukan pada malam itu. Berdasarkan hasil perhitungan, posisi hilal saat Matahari terbenam masih berada di bawah ufuk sehingga mustahil untuk teramati.
Perhitungan dilakukan pada koordinat pengamatan -6.12, 106.17 dengan elevasi sekitar 30 meter. Matahari tercatat terbenam pada pukul 18:17:51 WIB, sementara konjungsi atau ijtima’—tanda terjadinya Bulan baru—baru berlangsung setelahnya, yakni pada pukul 19:01:07 WIB.
Artinya, saat maghrib tiba, Bulan belum memasuki fase baru.
Lebih jauh, ketinggian hilal tercatat -1,030 derajat, yang menandakan posisi Bulan masih berada di bawah horizon teramati. Dengan kondisi ini, hilal tidak memiliki peluang untuk terlihat, baik secara kasat mata maupun menggunakan alat optik.
Selain itu, elongasi Bulan yang hanya 1,46 derajat serta fraksi iluminasi sebesar 0,00 persen memperkuat bahwa hilal benar-benar belum terbentuk secara visual.
“Umur Bulan bahkan masih negatif, yakni -1 jam 16 menit. Ini menunjukkan konjungsi terjadi setelah Matahari terbenam, sehingga hilal tidak mungkin teramati,” berdasarkan data yang dirilis dari hasil perhitungan astronomi tersebut.
Dalam kriteria rukyat, hilal baru berpotensi terlihat apabila berada di atas ufuk dengan jarak sudut yang cukup dari Matahari. Namun, kondisi pada 17 Februari ini sama sekali belum memenuhi syarat.
Dengan demikian, awal Ramadan 1447 H dipastikan belum dapat ditetapkan pada malam tersebut dan besar kemungkinan akan dilakukan penyempurnaan bulan Sya’ban menjadi 30 hari (istikmal), sehingga awal puasa berpotensi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.















