SERANG, RUBRIKBANTEN – Rencana proyek pelebaran jalan di ruas Bojonegara–Puloampel, Kabupaten Serang, memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Sejumlah warga menyatakan menolak pelebaran jalan karena dinilai bukan solusi untuk mengatasi kemacetan yang selama ini terjadi.
Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan, sebagian masyarakat memang mendukung pelebaran jalan. Namun, tidak sedikit pula yang menolaknya karena khawatir kondisi lalu lintas justru semakin semrawut.
“Kalau hanya diperlebar, nanti truk-truk tambang tetap lewat dan malah parkir di bahu jalan. Kemacetan tidak akan selesai. Yang kami inginkan jalur khusus untuk truk tambang dan jalur khusus untuk masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, saat ini terdapat dua pandangan di masyarakat. Kelompok pertama berharap pelebaran jalan tetap dilaksanakan, sementara kelompok lainnya menginginkan pemerintah membangun dua jalur terpisah agar kendaraan industri tidak bercampur dengan kendaraan warga.
Warga menilai pengalaman selama ini menunjukkan bahwa pelebaran jalan tanpa pengaturan yang tegas justru dimanfaatkan truk-truk besar sebagai lokasi parkir liar. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan memperparah kemacetan dan meningkatkan risiko kecelakaan.
Karena itu, masyarakat mendesak pemerintah agar mengkaji ulang rencana pelebaran jalan dan lebih memprioritaskan pembangunan dua jalur baru yang terpisah, yakni jalur khusus kendaraan tambang dan industri serta jalur khusus masyarakat umum.
Menurut warga, pemisahan jalur menjadi solusi yang lebih efektif untuk mengurangi kepadatan lalu lintas, meningkatkan keselamatan pengguna jalan, sekaligus mendukung aktivitas industri tanpa mengorbankan kenyamanan masyarakat di sepanjang ruas Bojonegara–Puloampel.















