Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Banner Atas Rubrik Banten
BeritaDaerahHukum dan KriminalKementerianKota CilegonNasionalOrganisasiPemerintahPendidikanPolitikSosial

Sebulan Lebih Pisau Menancap di Kepala Warga Cilegon, 7 Saksi Diperiksa Pelaku Belum Terungkap

61
×

Sebulan Lebih Pisau Menancap di Kepala Warga Cilegon, 7 Saksi Diperiksa Pelaku Belum Terungkap

Sebarkan artikel ini

CILEGON, RUBRIKBANTEN – Lebih dari sebulan berlalu, kasus dugaan penusukan yang menimpa Jahidi, warga Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon, hingga menyebabkan sebilah pisau menancap di kepalanya, masih menyisakan tanda tanya besar.

Hingga Rabu (28/10/2026), polisi belum berhasil mengungkap pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Padahal, tujuh orang saksi telah diperiksa dan penyelidikan kini melibatkan tim gabungan Polsek Pulomerak bersama Satreskrim Polres Cilegon.

Banner

Kapolsek Pulomerak, Kompol Dongan P. Ambarita, mengungkapkan bahwa penyelidikan masih terus dilakukan. Namun, upaya penelusuran terkendala lantaran sejumlah nomor telepon yang dilacak sudah tidak aktif.

“Sudah periksa tujuh orang saksi dan penanganan kasus di-back up oleh Reskrim Polres Cilegon (joint investigation) untuk bantuan teknologi. Semua nomor yang dilacak tidak aktif. Saat ini sedang dioptimalkan bantuan teknis IT oleh tim gabungan,” ujar Dongan saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Rabu (28/10/2026).

Selain kendala penelusuran tersebut, polisi juga belum dapat menggali keterangan langsung dari korban. Kondisi kesehatan Jahidi yang belum stabil menjadi salah satu hambatan dalam mengungkap rangkaian peristiwa.

“Korban belum bisa dimintai keterangan karena kesehatan belum stabil sesuai keterangan dokter ahli saraf,” jelasnya.

Tertidur di Bengkel, Berakhir dengan Pisau Menancap di Kepala

Peristiwa mengerikan itu terjadi di sebuah bengkel kawasan flyover Merak, Kecamatan Pulomerak, pada Jumat dini hari, 25 September 2026.

Istri korban, Lena, menceritakan bahwa sebelum kejadian, suaminya pulang bekerja dari PT Yuliana Inti Persada (YIP) sekitar waktu magrib.

Baca juga:  SPMB Kabupaten Serang Gratis, Wabup Najib Hamas Tegaskan Tidak Ada Pungli dan Titipan

Namun, Jahidi kembali berangkat setelah diminta membantu pekerjaan mantan atasannya di sebuah bengkel karena mekanik yang biasa bekerja di tempat tersebut sedang pulang.

“Suami saya meminta izin berangkat kembali untuk membantu pekerjaan bos sebelumnya di sebuah bengkel di kawasan Merak, karena mekanik bengkel tersebut sedang pulang,” tutur Lena, Selasa (27/10/2026).

Berdasarkan informasi yang diperoleh keluarga dari rekan korban, Jahidi menyelesaikan pekerjaannya sekitar tengah malam. Karena kelelahan, ia kemudian tertidur di kursi bengkel.

Namun, menjelang subuh, Lena justru menerima kabar bahwa suaminya mengalami kecelakaan. Informasi itu disampaikan seorang sopir tanpa penjelasan terperinci mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Belakangan, Jahidi diketahui mengalami luka serius dengan sebilah pisau menancap di kepalanya. Korban ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri dan harus menjalani operasi di Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM), Kota Cilegon.

Hingga kini, belum diketahui secara pasti bagaimana pisau tersebut bisa menancap di kepala korban maupun siapa yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Pelaku Belum Terungkap, Keluarga Dibayangi Tunggakan Rp70 Juta

Di tengah penantian terhadap hasil penyelidikan polisi, keluarga Jahidi juga harus menghadapi persoalan biaya pengobatan yang tidak sedikit.

Lena mengungkapkan, total biaya perawatan suaminya mencapai sekitar Rp150 juta. Dari jumlah tersebut, Rp80 juta telah dibayarkan, sementara sekitar Rp70 juta lainnya masih menjadi tunggakan.

Baca juga:  Istri Pejabat Cilegon Tembus Best Seller Gramedia: Karin Safari Ukir Prestasi Lewat Novel Eat My Belly

“Saat ini sudah dibayar Rp80 juta, sedangkan sisanya masih menunggak. Pihak rumah sakit memberikan waktu satu minggu untuk melunasi,” ungkapnya.

Menurut Lena, sejak awal suaminya didaftarkan sebagai pasien umum oleh pihak bengkel. Pemilik bengkel sebelumnya disebut menyampaikan kesediaan membantu biaya pengobatan melalui skema tanggungan bersama.

Namun, menurut pengakuan Lena, bantuan yang diterima keluarga dari pihak bengkel hingga saat ini baru mencapai Rp20 juta.

Kondisi tersebut membuat keluarga menghadapi dua persoalan sekaligus, yakni menunggu kepastian hukum atas peristiwa yang menimpa Jahidi dan mencari jalan keluar untuk melunasi biaya pengobatan.

“Kami berharap pemerintah bisa membantu melunasi tunggakan biaya pengobatan. Kami juga berharap polisi bisa mengungkap kasus ini agar jelas apa yang sebenarnya terjadi pada suami saya,” harap Lena.

Saat ini Jahidi telah kembali ke rumah, tetapi kondisi kesehatannya belum sepenuhnya pulih.

Sementara itu, penyelidikan polisi masih berlangsung. Belum terungkapnya kronologi kejadian dan pihak yang bertanggung jawab membuat keluarga terus menanti kepastian hukum.

Kasus ini pun menyisakan pertanyaan besar: apa sebenarnya yang terjadi di bengkel kawasan flyover Merak pada dini hari itu, hingga seorang pekerja ditemukan dengan pisau menancap di kepalanya?

Keluarga berharap penyelidikan dapat segera menemukan titik terang, sehingga peristiwa yang menimpa Jahidi tidak terus menjadi misteri.

Example 120x600
Untitled-1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!