Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Banner Atas Rubrik Banten
BeritaDaerahKementerianKota CilegonNasionalOrganisasiPemerintahPendidikanPolitikSosial

Satu Tahun DKKC: Menyalakan Api Kebudayaan

36
×

Satu Tahun DKKC: Menyalakan Api Kebudayaan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Rizal Arif Baihaqi – Ketua Forum Wartawan Kebudayaan (FORWARD)

Satu tahun mungkin bukan waktu yang panjang dalam perjalanan sebuah lembaga. Namun dalam kebudayaan, satu tahun adalah kesempatan untuk menyalakan api, merawat bara, dan memastikan cahaya itu tidak padam di tengah derasnya perubahan zaman.

Banner

Tepat satu tahun lalu, Dewan Kebudayaan Kota Cilegon hadir dengan harapan besar.

Bukan sekadar menjadi organisasi atau lembaga formal, melainkan menjadi ruang bersama tempat gagasan, kreativitas, tradisi, dan identitas masyarakat bertemu.

Sebuah rumah yang diharapkan mampu menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan kebudayaan Cilegon.

Di kota yang dikenal sebagai Kota Baja, pembangunan sering kali identik dengan pabrik, industri, investasi, dan infrastruktur.

Semua itu memang penting. Namun sebuah kota tidak hanya dibangun oleh beton dan baja. Sebuah kota juga dibangun oleh cerita, nilai, ingatan, bahasa, kesenian, serta kebijaksanaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kebudayaan adalah jiwa yang membuat sebuah kota memiliki karakter. Tanpa kebudayaan, kota hanya menjadi kumpulan bangunan. Tanpa kebudayaan, kemajuan kehilangan arah. Tanpa kebudayaan, masyarakat perlahan kehilangan akar yang menghubungkannya dengan sejarah dan identitasnya sendiri.

Karena itulah kehadiran Dewan Kebudayaan Kota Cilegon memiliki arti yang jauh lebih besar dari sekadar penyelenggaraan kegiatan seni dan budaya. Ia adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa di tengah laju modernitas, Cilegon tetap mengenali dirinya sendiri.

Selama satu tahun terakhir, berbagai langkah telah dilakukan. Ruang dialog dibuka. Komunitas-komunitas diberi kesempatan untuk bersuara. Seniman memperoleh ruang berekspresi. Berbagai diskusi tentang arah pembangunan kebudayaan mulai diperbincangkan.

Baca juga:  Petani Milenial Raup Sukses dari Melon Emas: Rafilafarm Tunjukkan Bertani Itu Keren

Mungkin hasilnya belum sempurna. Mungkin masih banyak yang perlu diperbaiki. Namun setiap langkah kecil yang dilakukan hari ini adalah bagian dari perjalanan panjang membangun fondasi kebudayaan yang lebih kokoh di masa depan.

Yang patut disadari, tantangan kebudayaan hari ini tidak hanya datang dari keterbatasan fasilitas atau dukungan anggaran. Tantangan yang lebih besar justru datang dari perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat. Teknologi mengubah cara manusia berinteraksi. Budaya populer global hadir tanpa batas. Generasi muda hidup dalam dunia yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Dalam situasi seperti ini, kebudayaan lokal tidak boleh hanya menjadi kenangan yang dipajang di museum atau dipentaskan saat seremoni. Kebudayaan harus hidup. Ia harus mampu berdialog dengan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Ia harus mampu menjangkau generasi muda tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi akar keberadaannya.

Sebagai wartawan kebudayaan, saya percaya bahwa merawat kebudayaan tidak cukup hanya dengan menciptakan karya atau menyelenggarakan kegiatan.

Kebudayaan juga harus dicatat, ditulis, didokumentasikan, dan disebarluaskan. Sebab apa yang tidak ditulis sering kali akan hilang dari ingatan.

Banyak peristiwa budaya yang berlangsung setiap hari. Banyak karya yang lahir dari tangan-tangan kreatif masyarakat. Banyak gagasan yang muncul dari ruang-ruang diskusi. Semua itu adalah bagian dari sejarah yang sedang dibangun.

Jika tidak didokumentasikan, generasi mendatang mungkin tidak pernah mengetahui bahwa di masa ini pernah ada orang-orang yang berjuang menjaga nyala kebudayaan Cilegon.

Karena itu, sinergi antara pelaku budaya dan media menjadi sangat penting.

Kebudayaan membutuhkan ruang ekspresi, tetapi juga membutuhkan ruang dokumentasi. Kebudayaan membutuhkan panggung, tetapi juga membutuhkan catatan. Sebab peradaban tidak hanya dibangun oleh mereka yang berkarya, melainkan juga oleh mereka yang menjaga ingatan.

Baca juga:  Terkait Pasien BPJS, RSUD Uwes Qorny Cilograng Komitmen Tingkatkan Pelayanan

Peringatan satu tahun Dewan Kebudayaan Kota Cilegon sejatinya bukan tentang melihat seberapa jauh perjalanan yang telah ditempuh. Lebih dari itu, ini adalah momentum untuk bertanya, ke mana arah kebudayaan Cilegon akan dibawa? Nilai apa yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya? Dan bagaimana memastikan bahwa kemajuan kota berjalan seiring dengan kemajuan kebudayaannya?

Kebudayaan bukan milik segelintir orang. Ia adalah milik seluruh warga. Karena itu, tanggung jawab merawatnya juga menjadi tanggung jawab bersama. Seniman, budayawan, komunitas, akademisi, media, pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat umum memiliki peran yang sama pentingnya dalam menjaga nyala kebudayaan.

Satu tahun perjalanan ini mungkin baru permulaan. Namun setiap perjalanan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil. Dan setiap api besar selalu berawal dari satu percikan.

Hari ini, kita sedang menjaga percikan itu.

Semoga Dewan Kebudayaan Kota Cilegon terus menjadi ruang kolaborasi, ruang gagasan, dan ruang harapan. Menjadi rumah bagi keberagaman ekspresi budaya.

Menjadi jembatan antara tradisi dan masa depan. Menjadi penjaga ingatan sekaligus penggerak peradaban.

Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang dari sebuah kota bukan hanya bangunan yang menjulang tinggi, tetapi juga kebudayaan yang berhasil diwariskan kepada generasi yang akan datang.

Selamat 1 Tahun Dewan Kebudayaan Kota Cilegon.

“Kebudayaan yang dirawat hari ini adalah warisan yang akan menghidupkan generasi esok.”

Example 120x600
Untitled-1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!