CILEGON, RUBRIKBANTEN – Diskusi lintas komunitas bertajuk Padang Wulan kembali digelar untuk edisi kedua oleh Forum Wartawan Kebudayaan (FORWARD) bersama Dewan Kebudayaan Kota Cilegon (DKKC). Kegiatan yang berlangsung di Rumah Dinas Wali Kota Cilegon pada Sabtu malam, 14 Maret 2026 itu mengangkat tema “Lailatul Qadr sebagai Peristiwa Spiritual dan Sosial” dengan narasumber utama Abah Aristyana.
Dalam pemaparannya, Abah Aristyana mengajak peserta memahami makna Lailatul Qadr tidak hanya sebagai peristiwa spiritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang kuat dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia membuka diskusi dengan mengutip Surat Al-Qadr untuk menjelaskan hakikat apa yang sebenarnya turun pada malam yang penuh kemuliaan tersebut. Menurutnya, kata ganti “Hu” (Dia) dalam ayat pertama merujuk pada pancaran Nur atau cahaya Baginda Nabi Muhammad SAW.
“Pancaran Nur inilah yang penuh keberkahan dan karunia, sehingga malam itu menjadi lebih utama dari seribu bulan,” jelasnya di hadapan para peserta diskusi.
Namun demikian, Abah menegaskan bahwa spiritualitas tidak akan mencapai kesempurnaan jika hanya berhenti pada ibadah ritual semata.
Ia memperkenalkan konsep “tangga sosial” sebagai jalan yang dapat membawa manusia menuju kedekatan dengan Allah. Menurutnya, Lailatul Qadr merupakan titik temu antara dimensi langit dan bumi.
“Untuk kita umat akhir zaman, tangga untuk masuk ke tingkat kedekatan dengan-Nya adalah melalui jalur sosial. Bagaimana kita berhubungan baik dan saling membantu di kemasyarakatan. Itulah tangga termudah karena ada di sekeliling kita,” ujarnya.
Abah juga menjelaskan bahwa seribu bulan secara matematis setara dengan sekitar 83 tahun 4 bulan. Namun, keutamaan tersebut tidak semata diperoleh dengan berdiam diri, melainkan dengan menghadirkan manfaat bagi sesama.
Ia mengutip prinsip bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Dalam kesempatan itu, Abah turut menyinggung fenomena pamer kesalihan yang kerap terjadi di tengah masyarakat. Menurutnya, puasa merupakan ibadah yang paling rahasia karena tidak terlihat secara fisik, berbeda dengan salat yang tampak dari gerakan maupun atribut.
“Jangan bangga puasa, karena yang puasa dan tidak itu sama-sama laparnya. Hasilnya pun bukan dilihat saat Ramadan, tapi nanti pada efek dampaknya (la’allakum tattaquun). Apa yang kita tanam, itulah yang akan dituai,” tambahnya.
Ia menutup pemaparannya dengan menekankan bahwa nilai seorang manusia di hadapan Allah terletak pada seberapa besar kebaikan yang ia berikan kepada banyak orang.
“Nilai di sisi Allah adalah ketika kita memberikan kebaikan bagi banyak orang. Itulah kebahagiaan hakiki, yang tidak hilang setelah tanggal satu (Lebaran), tapi bertahan sampai akhir hayat,” pungkasnya.















