CILEGON, RUBRIKBANTEN – Nasib nahas menimpa Jahidi, warga Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon. Niatnya membantu pekerjaan mantan bos di sebuah bengkel kawasan Flyover Merak justru berujung petaka. Ia ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri dengan luka serius di bagian kepala yang diduga akibat penusukan hingga harus menjalani operasi.
Peristiwa yang terjadi pada Jumat dini hari (25/9/2026) itu hingga kini masih menyisakan tanda tanya. Selain menanti kejelasan penyebab kejadian, keluarga korban kini harus menghadapi beban biaya pengobatan yang mencapai sekitar Rp150 juta.
Istri korban, Lena, mengungkapkan bahwa sebelum kejadian, suaminya sempat pulang bekerja dari PT Yuliana Inti Persada (YIP) sekitar waktu magrib.
Namun, Jahidi kemudian meminta izin kembali berangkat untuk membantu pekerjaan mantan bosnya di sebuah bengkel kawasan Merak lantaran mekanik yang biasa bekerja di tempat tersebut sedang pulang.
“Suami saya meminta izin berangkat kembali untuk membantu pekerjaan bos sebelumnya di sebuah bengkel di kawasan Merak, karena mekanik bengkel tersebut sedang pulang,” ujar Lena saat ditemui di kediamannya, Senin (12/10/2026).
Menurut Lena, berdasarkan informasi yang diperolehnya dari rekan sang suami, Jahidi telah menyelesaikan pekerjaan sekitar tengah malam. Karena kelelahan setelah bekerja, korban kemudian tertidur di kursi bengkel.
Namun, menjelang subuh, Lena justru menerima kabar mengejutkan dari seorang sopir yang menyampaikan bahwa suaminya mengalami kecelakaan.
Kabar tersebut membuat keluarga panik. Terlebih, Lena mengaku tidak mendapatkan penjelasan secara terperinci mengenai peristiwa yang sebenarnya menimpa suaminya.
Belakangan diketahui, Jahidi mengalami luka serius di bagian kepala. Bahkan, menurut informasi keluarga, terdapat sebilah pisau yang menancap di kepalanya hingga membutuhkan tindakan operasi.
Korban selanjutnya mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM), Kota Cilegon.
Biaya Pengobatan Tembus Rp150 Juta, Keluarga Harapkan Bantuan Pemerintah
Di tengah kondisi Jahidi yang belum sepenuhnya pulih, keluarga kini dihadapkan pada persoalan biaya pengobatan yang tidak sedikit.
Lena menyebutkan, total biaya perawatan suaminya mencapai sekitar Rp150 juta. Dari jumlah tersebut, baru sekitar Rp80 juta yang telah dibayarkan, sementara sisanya masih menjadi tunggakan.
“Saat ini sudah dibayar Rp80 juta, sedangkan sisanya masih menunggak. Pihak rumah sakit memberikan waktu satu minggu untuk melunasi,” ungkapnya.
Menurut Lena, sejak awal proses perawatan, pendaftaran pasien dilakukan melalui jalur umum oleh pihak bengkel.
Ia juga mengungkapkan bahwa pemilik bengkel sebelumnya menyatakan kesediaan membantu menanggung biaya pengobatan dengan skema pembagian biaya bersama keluarga.
Namun, Lena menyebut bantuan yang diterima dari pemilik bengkel sejauh ini baru sebesar Rp20 juta.
Kondisi tersebut membuat keluarga berharap adanya perhatian dan bantuan dari Pemerintah Kota Cilegon agar tunggakan biaya pengobatan dapat diselesaikan.
“Kami berharap pemerintah bisa membantu melunasi tunggakan biaya pengobatan. Kami juga berharap polisi bisa mengungkap kasus ini agar jelas apa yang sebenarnya terjadi pada suami saya,” ujarnya.
Meski kini telah diperbolehkan pulang dan berada di rumah, kondisi Jahidi disebut masih belum pulih sepenuhnya setelah menjalani operasi.
Polisi Dalami Dugaan Penusukan, Pisau dan Ponsel Korban Diamankan
Sementara itu, dugaan penusukan yang menimpa Jahidi masih dalam pendalaman pihak kepolisian.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, jajaran Polsek Pulomerak, Polres Cilegon, telah meminta keterangan sejumlah saksi, termasuk istri korban.
Polisi juga disebut telah mengamankan sejumlah barang bukti berupa sebilah pisau dan telepon seluler milik Jahidi untuk kepentingan penyelidikan.
Meski demikian, pemeriksaan langsung terhadap korban belum dapat dilakukan lantaran kondisi kesehatannya belum memungkinkan.
Keterangan Jahidi dinilai penting untuk memperjelas rangkaian kejadian, termasuk mengetahui bagaimana luka serius tersebut bisa terjadi dan apakah terdapat unsur tindak pidana.
Hingga kini, penyebab pasti peristiwa tersebut maupun pihak yang diduga bertanggung jawab belum dapat dipastikan.
Keluarga berharap aparat kepolisian dapat segera mengungkap peristiwa yang menimpa Jahidi, sehingga tidak terus menyisakan tanda tanya.
Selain menuntut kejelasan hukum, keluarga juga berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian terhadap kondisi korban yang masih membutuhkan pemulihan serta menghadapi beban biaya pengobatan.















