Oleh : Arifin Al Bantani
Hari Ayah kerap kali dirayakan dengan riuh rendah ucapan, bingkisan, atau seuntai pelukan yang terjeda oleh canggung. Namun, di balik sekat-sekat formalitas penanggalan, terdapat sebuah ruang sunyi yang patut kita masuki dengan takzim. Bagi jiwa yang gemar merenung, figur seorang ayah bukan sekadar tiang penyangga lahiriah atau pemberi nama belakang. Dalam kacamata sufistik, ayah adalah sebuah tanda (ayat)—sebuah cermin jernih yang memantulkan sebagian kecil dari sifat Keindahan (Jamal) dan Keagungan (Jajal) Sang Pencipta di semesta raya.
Jika seorang ibu adalah manifestasi nyata dari samudera kasih sayang (Rahman dan Rahim) yang memeluk, merawat, dan menumbuhkan, maka seorang ayah adalah perwujudan dari keteguhan sifat Al-Muhaimin (Yang Maha Memelihara) dan Al-Razzaq (Yang Maha Pemberi Rezeki). Ayah adalah arsitek kesunyian. Ia menerjemahkan cinta bukan melalui rima kata-kata yang mendayu, melainkan melalui tetesan keringat yang jatuh ke bumi tanpa sempat dihitung, dan melalui fajar yang ia kejar demi memastikan malam anak-anaknya dipenuhi kedamaian.
Sunyi yang Menghidupkan
Seorang sufi pernah berbisik bahwa ibadah yang paling tersembunyi adalah cinta yang tak menuntut balasan. Di sinilah letak asketisme seorang ayah. Perhatikanlah guratan di dahinya dan telapak tangannya yang mengeras. Itu adalah kitab kehidupan yang ditulis dengan tinta ketulusan. Ayah acapkali memilih menjadi “tiang yang tak terlihat” di dalam rumah. Ia menyangga atap agar rumah tak runtuh diterpa badai kehidupan, namun ia sendiri merelakan dirinya basah dan kepanasan di luar sana.
Dalam kontemplasi yang mendalam, kita melihat bahwa pengorbanan seorang ayah adalah bentuk fana yang sunyi—ia meniadakan egonya, mengubur mimpi-mimpi pribadinya, agar mimpi anak-anaknya dapat mekar dan mengangkasa. Ia bertindak sebagai jembatan; mempersilakan kaki-kaki mungil kita menginjak punggungnya demi menyeberangi jurang masa depan, sementara ia sendiri tetap tinggal di masa lalu, tersenyum melihat kita sampai di seberang.
Al-Ab: Sang Gerbang Spiritual
Secara etimologis dan spiritual, relasi antara anak dan ayah melambangkan pencarian jiwa akan asal-usulnya. Dalam tradisi hikmah, ayah adalah babu-l-bait (pintu rumah). Melalui ketegasan dan bimbingannya, seorang anak belajar tentang batas, hukum, dan keadilan—pondasi penting sebelum seorang hamba mampu mengenali syariat dan hakikat Ilahi.
”Keridaan Allah ada pada keridaan orang tua, dan kemurkaan-Nya ada pada kemurkaan orang tua.”
Hadis ini bukan sekadar hukum kausalitas moral, melainkan sebuah realitas makrifat. Keridaan seorang ayah adalah pintu langit yang terbuka. Ketika seorang ayah mengangkat tangannya di sepertiga malam yang sunyi, mendoakan keselamatan anaknya tanpa diketahui oleh si anak sendiri, di situlah terjadi dialog sunyi antara sang perantara (wasilah) dengan Sang Sumber Segala Sumber (Al-Awwal).
Merayakan Ayah di Dalam Jiwa
Maka, merayakan Hari Ayah tidak boleh terjebak pada selebrasi lahiriah yang fana. Merayakan ayah adalah sebuah laku spiritual untuk pulang ke dalam diri, menjemput kembali rasa hormat yang mungkin sempat terkikis oleh ego kemandirian kita.
Bagi kita yang masih beruntung dapat menatap wajahnya, tataplah matanya yang mulai meredup dengan tatapan cinta seorang penziarah yang menemukan oase di tengah padang pasir. Bagi kita yang ayahnya telah berpulang ke haribaan-Nya, ketahuilah bahwa ikatan ruhani tidak akan pernah terputus oleh liang lahat. Doa-doa tulus kita adalah sayap-sayap cahaya yang akan menemani ruan sunyi mereka di alam barzakh.
Pada akhirnya, Hari Ayah adalah pengingat untuk bersyukur atas “wujud perantara” yang telah mengantarkan kita ke panggung dunia ini. Di balik ketegaran seorang ayah yang tampak laksana batu karang, sesungguhnya mengalir sungai cinta yang maha dalam—sebuah cinta yang bersumber dari Sang Maha Pengasih, yang dititipkan ke dalam dada seorang lelaki yang kita panggil: Ayah.















