JAKARTA, RUBRIKBANTEN – Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten menggelar kegiatan kunjungan sekaligus Master Class Jurnalistik Foto di Galeri Nasional Indonesia, Kamis (30/4). Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran komprehensif bagi mahasiswa untuk memahami fotografi jurnalistik tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari aspek estetika, sejarah, hingga etika publikasi.
Bertempat di galeri yang berada di bawah naungan Kementerian Kebudayaan tersebut, mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung mengenai proses kuratorial, teknik display karya, hingga perawatan koleksi fotografi nasional. Mereka juga berdialog dengan kurator, edukator, serta tim humas terkait peran foto sebagai dokumen sejarah bangsa.
Kurator Galeri Nasional Indonesia, Bayu Genia Krishbie, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk sinergi antara dunia akademik dan industri kreatif. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya belajar memotret, tetapi juga memahami bagaimana sebuah karya visual dikurasi dan memiliki nilai historis.
“Ini bagian dari penguatan kurikulum berbasis praktik, selaras dengan semangat Kampus Merdeka,” ujarnya.
Sementara itu, Desy Novita Sari dari Humas dan Kemitraan Galeri Nasional menegaskan bahwa pihaknya membuka peluang kolaborasi lebih luas dengan perguruan tinggi. Mulai dari program magang hingga keterlibatan mahasiswa dalam manajemen galeri, publikasi digital, dan strategi pemasaran seni.
“Kami ingin menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan praktik profesional di bidang seni dan komunikasi,” katanya.
Peran edukator juga menjadi sorotan dalam kegiatan ini. Vicka dan Abim, edukator Galeri Nasional, menilai mahasiswa jurnalistik foto perlu memahami konteks sejarah dalam setiap karya yang dihasilkan.
“Mahasiswa sering fokus pada momen kekinian. Kami membantu mereka membaca konteks masa lalu agar foto yang dihasilkan memiliki kedalaman makna,” jelasnya.
Ketua Prodi KPI, Muhibuddin, M.Si., menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari penguatan dakwah visual. Ia menilai fotografi jurnalistik dapat menjadi media komunikasi budaya yang efektif, termasuk dalam merepresentasikan nilai-nilai keislaman dalam konteks kebangsaan.
“Galeri Nasional menjadi medium penting dalam membangun narasi visual yang bertanggung jawab,” tuturnya.
Dosen pengampu mata kuliah Jurnalistik Foto, Fuad Fauji, menambahkan bahwa foto jurnalistik memiliki posisi strategis sebagai bukti faktual dalam sejarah. Karena itu, integritas dalam proses pengambilan dan publikasi menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
“Galeri negara menjaga standar kejujuran visual tanpa manipulasi. Ini penting agar foto dapat dipertanggungjawabkan sebagai dokumen negara di masa depan,” tegasnya.
Kegiatan ini juga menjadi langkah konkret dalam mendekatkan dunia akademik dengan institusi kebudayaan nasional. Mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai teknik fotografi, tetapi juga mampu membaca semiotika dan pesan di balik setiap karya visual.
Sebagai penutup, peserta diajak meninjau langsung koleksi fotografi hasil akuisisi yang dipamerkan di ruang pamer tetap. Kegiatan ini diharapkan mampu memperkaya wawasan mahasiswa serta mendorong lahirnya jurnalis foto muda yang kritis, kreatif, dan berintegritas tinggi.















