CILEGON, RUBRIKBANTEN – Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Cilegon ke-27 dimanfaatkan Korps HMI-Wati (KOHATI) HMI Cabang Cilegon untuk menyuarakan kritik tajam terhadap arah pembangunan yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada perempuan.
Ketua Umum KOHATI HMI Cabang Cilegon, Dian Novitasari, menegaskan bahwa pembangunan kota tidak bisa dilepaskan dari peran strategis perempuan sebagai pilar sosial, ekonomi, dan peradaban. Namun, realitas di lapangan menunjukkan masih banyak persoalan serius yang dihadapi perempuan di Kota Baja tersebut.
“Kami melihat masih tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, ketimpangan akses ekonomi, hingga minimnya keterlibatan perempuan dalam ruang-ruang pengambilan kebijakan publik,” ujar Dian.
Menurutnya, perempuan tidak boleh lagi diposisikan sekadar sebagai objek pembangunan. Perempuan harus menjadi subjek utama yang dilibatkan secara aktif, dilindungi hak-haknya, serta diberdayakan potensinya.
Dalam pernyataannya, KOHATI mendorong Pemerintah Kota Cilegon untuk mengambil langkah konkret, di antaranya memperkuat kebijakan perlindungan perempuan dan anak secara komprehensif dan berkelanjutan, memperluas akses perempuan terhadap pendidikan, ekonomi kreatif, serta lapangan kerja yang layak.
Selain itu, KOHATI juga menekankan pentingnya keterwakilan perempuan dalam posisi strategis, baik di pemerintahan maupun sektor lainnya, serta mendesak pemberian sanksi tegas terhadap segala bentuk kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan.
“Kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari sejauh mana perempuan mendapatkan ruang yang aman, adil, dan setara,” tegasnya.
KOHATI HMI Cabang Cilegon pun menyatakan komitmennya untuk terus berada di garda terdepan dalam memperjuangkan hak-hak perempuan serta mengawal kebijakan yang berperspektif keadilan gender.















