SERANG, RUBRIKBANTEN – SMAN 1 Ciomas menunjukkan kepedulian sosial yang tinggi melalui program pembelajaran kurban yang digagas langsung oleh para siswa. Kegiatan tersebut bermula dari aksi berbagi takjil saat Ramadan hingga akhirnya berhasil mengumpulkan dana puluhan juta rupiah untuk membeli sapi kurban.
Kepala Sekolah SMAN 1 Ciomas, Edi Kocowahono menjelaskan, ide awal kegiatan muncul ketika siswa melaksanakan pesantren kilat dan mengusulkan kegiatan berbagi takjil kepada masyarakat.
“Awalnya dari kegiatan bagi-bagi takjil. Ternyata antusiasme anak-anak luar biasa. Mereka merasa senang bisa berbagi dengan masyarakat, lalu muncul keinginan supaya kegiatan sosialnya tidak hanya berhenti di takjil, tetapi juga berbagi daging kurban,” ujarnya.
Menurut Edi, semangat siswa untuk memperbesar kegiatan sosial tersebut muncul secara murni dari para pelajar, bukan instruksi guru. Pihak sekolah hanya mendampingi dan memberikan arahan agar kegiatan berjalan baik.
Ia kemudian memberikan gambaran kepada siswa mengenai biaya pembelian hewan kurban, khususnya sapi yang nilainya mencapai sekitar Rp25 juta. Dari hasil musyawarah siswa, disepakati iuran sukarela sebesar Rp25 ribu per siswa.
“Karena sifatnya sukarela, kami juga memahami tidak semua siswa mampu. Ada yang yatim, piatu, dan berasal dari keluarga sederhana. Bahkan awalnya mereka kami bebaskan. Tapi ternyata banyak siswa yatim dan piatu yang tetap ingin ikut berpartisipasi,” katanya.
Semangat kebersamaan tersebut membuat target pengumpulan dana justru terlampaui. Dana yang terkumpul mencapai sekitar Rp27 juta dan langsung digunakan untuk membeli sapi kurban dengan pendampingan pihak sekolah.
“Saya hanya mendampingi mereka membeli sapi. Ini murni kerja keras dan semangat siswa. Kami hanya membantu supaya cita-cita mereka bisa terealisasi,” tambahnya.
Edi juga menegaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pendidikan sosial dan praktik pembelajaran kurban bagi siswa.
“Judulnya praktikum pembelajaran kurban. Kami ingin anak-anak belajar tentang kepedulian, gotong royong, dan berbagi kepada masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Guru Agama sekaligus pembimbing kegiatan, Ecib Imam Subaweh mengatakan tingkat partisipasi siswa kelas 12 dalam kegiatan tersebut mencapai sekitar 75 hingga 80 persen.
Ia juga membantah isu yang mengaitkan partisipasi kurban dengan pembagian Surat Keterangan Lulus (SKL). Menurutnya, hampir seluruh SKL sudah dibagikan kepada siswa tanpa ada kaitan dengan iuran kegiatan.
“Kalau memang dikaitkan, harusnya jumlah penerima SKL sebanding dengan peserta yang ikut partisipasi. Faktanya SKL sudah dibagikan hampir 100 persen. Yang belum menerima hanya karena sakit atau berhalangan hadir,” tegasnya.
Pihak sekolah berharap kegiatan sosial seperti ini dapat terus menjadi sarana pendidikan karakter dan menumbuhkan kepedulian sosial di kalangan pelajar.















