Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Banner Atas Rubrik Banten
BeritaDaerahEkonomiKementerianKesehatanKota CilegonNasionalOrganisasiPemerintahPendidikanPolitikSosial

Heboh Dapur MBG Ciburuh Randakari: Ompreng Berisik, Bau Limbah Menyengat, Pengelola Akui Pernah Bermasalah

22
×

Heboh Dapur MBG Ciburuh Randakari: Ompreng Berisik, Bau Limbah Menyengat, Pengelola Akui Pernah Bermasalah

Sebarkan artikel ini

CILEGON, RUBRIKBANTEN – Keluhan warga terkait aktivitas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kampung Ciburuh, Kelurahan Randakari, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon, mendapat tanggapan dari pihak pengelola.

Sebelumnya, sejumlah warga yang tinggal di sekitar lokasi mengeluhkan aktivitas dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama suara bising dari aktivitas pencucian wadah makanan atau ompreng hingga persoalan bau yang diduga berasal dari limbah.

Banner

Dari hasil pantauan di lapangan, lokasi dapur SPPG tersebut memang berada di kawasan permukiman dengan bangunan rumah warga di bagian belakang maupun sisi kiri dan kanan lokasi.

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala SPPG Ciburuh Randakari, Yudi Yanto, tidak membantah bahwa aktivitas pencucian ompreng dapat menimbulkan suara cukup keras.

Menurut Yudi, suara tersebut muncul karena jumlah ompreng yang dicuci cukup banyak. Terlebih, wadah berbahan logam ketika saling beradu memang menghasilkan suara yang relatif keras.

“Kalau ompreng berisik memang benar. Namanya bahannya dari stainless, sedikit saja sudah keras suaranya. Kalau sudah 3.000 ompreng, lagi mencuci akhirnya ketika dikeringkan ada suara,” ujar Yudi.

Ia mengatakan pihaknya telah mengingatkan para relawan agar mengurangi suara, terutama ketika aktivitas berlangsung dan berpotensi mengganggu warga sekitar.

“Kalau suara-suara relawan sudah dibilangin, jangan berisik. Namanya emak-emak ngobrol boleh, tapi suaranya dikurangi,” katanya.

Yudi juga mengakui bahwa persoalan lokasi yang berdekatan dengan rumah warga membuat aktivitas dapur SPPG harus mendapat perhatian lebih.

“Ya, susah juga karena dekat rumah warga. Mepet-mepet,” ujarnya.

Akui Pernah Ada Bau Menyengat

Tidak hanya soal kebisingan, Yudi juga mengakui pernah terjadi persoalan bau dari sistem pengelolaan limbah di lokasi SPPG.

Namun, ia menyebut persoalan tersebut terjadi pada tahap awal ketika instalasi pengolahan air limbah (IPAL) belum berfungsi secara optimal.

“Yang bau memang ada, tapi sudah dibangun lagi,” kata Yudi.

Baca juga:  Setahun Memimpin, Andra Soni Bongkar Praktik Titipan dan Benahi Total Pendidikan Banten

Menurutnya, sistem IPAL kemudian diperbaiki, termasuk melakukan penambahan saluran pipa agar pembuangan tidak lagi mengarah langsung ke saluran yang sebelumnya digunakan.

Pengelola Pasang Penutup untuk Redam Suara

Sementara itu, tangan kepercayaan Yayasan Imadul Manarus Syuub, Syamsul Arief, mengatakan pihak yayasan telah menerima masukan dari warga terkait kebisingan.

Ia mengakui bagian bangunan dapur yang masih terbuka membuat suara aktivitas pencucian ompreng lebih mudah terdengar hingga ke rumah warga.

“Intinya memang suaranya ke keluarga di belakang itu memang ada. Bangunan space yang masih terbuka. Kami sudah berbicara dengan yayasan dan mitra bagaimana suara ini agar tidak keluar jauh,” ujar Syamsul.

Ia memastikan pihak pengelola berencana memasang penutup pada bagian bangunan yang masih terbuka.

“Insyaallah Sabtu besok kami akan memasang tutup agar suara tidak keluar,” katanya.

Syamsul menegaskan suara tersebut terutama berasal dari aktivitas pencucian ompreng.

“Karena memang begitu, ompreng ketemu ompreng, namanya nyuci pasti ada saja bunyi,” ujarnya.

Menurutnya, hingga kini baru ada satu warga yang secara langsung menyampaikan keluhan terkait kebisingan kepada pihak yayasan.

“Kalau masukan itu baru satu orang yang ke yayasan terkait berisik. Memang karena yang terdekat,” katanya.

Soal Limbah, Pengelola Klaim Sudah Ada Perbaikan

Terkait persoalan bau, Syamsul menjelaskan pihaknya juga telah melakukan evaluasi. Ia mengatakan sumber persoalan tidak hanya berkaitan dengan IPAL, tetapi juga sisa makanan atau limbah padat yang dihasilkan dari aktivitas dapur.

Ia mengaku mengambil sendiri sisa limbah makanan pada waktu tertentu agar tidak terlalu lama menumpuk di lokasi.

“Setiap Jumat, karena sampahnya tidak diambil, sorenya saya ambil sendiri. Saya buang ke tanah pribadi, saya bakar, atau buat pakan ayam,” ujarnya.

Namun, untuk ke depan, pengelola mengaku sedang mengupayakan pola pengangkutan limbah yang lebih teratur melalui UPT terkait.

Baca juga:  Ubah Stigma Negatif, Suporter Persib di Cilegon Gelar Jumat Berkah Bersama Polisi

Syamsul mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan UPT untuk mendapatkan solusi mengenai pengangkutan limbah.

“Kalau memang tidak setiap hari, tiga hari sekali dalam satu minggu. Jadi Senin kita masak, Selasanya diambil. Rabu masak, Kamis diambil. Jadi tidak ada sisa yang menginap di sini,” katanya.

Pipa IPAL Diperpanjang

Syamsul juga menjelaskan bahwa saluran pembuangan IPAL sebelumnya memang sempat mengarah ke selokan.

Atas masukan warga, pihaknya kemudian melakukan perubahan dengan memperpanjang pipa dan mengarahkannya ke bagian yang dinilai lebih sesuai.

“Pipa itu memang awalnya membuang langsung di selokan. Warga menginginkan tambahan pipa lagi, dimasukkan ke dalam. Itu sudah dipasang,” jelasnya.

Ia menegaskan bagian tanah di belakang lokasi yang digunakan untuk saluran tersebut merupakan tanah miliknya.

Syamsul juga mengakui bahwa pada masa awal operasional, IPAL belum berfungsi dengan baik sehingga sempat menimbulkan bau menyengat.

“Awal-awal memang IPAL belum berfungsi. Makanya ada bau menyengat. Tapi sekarang sudah ada IPAL dan tiap hari petugas mengambil,” ujarnya.

Menurutnya, pihak yayasan terbuka terhadap kritik maupun masukan dari masyarakat.

“Saya mengucapkan terima kasih kalau memang ada warga yang memberikan masukan kepada kita. Saya tidak antikritik. Kalau masyarakat merasa terganggu atau tidak nyaman dengan keadaan sisa makanan ataupun IPAL dan yang lainnya, tidak apa-apa. Silakan memberikan masukan agar kita juga bisa memperbaiki hal-hal yang perlu diperbaiki,” pungkasnya.

Dengan adanya klarifikasi tersebut, persoalan kebisingan dan lingkungan di sekitar SPPG Ciburuh kini menjadi perhatian bersama. Terlebih lokasi dapur berada di tengah kawasan permukiman, sehingga keberlangsungan program MBG diharapkan tetap berjalan tanpa mengorbankan kenyamanan warga sekitar.

Example 120x600
Untitled-1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!