SERANG, RUBRIKBANTEN – Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Pariwisata (Dispar) terus menggenjot promosi potensi wisata daerah dengan pendekatan kreatif dan edukatif. Salah satu inovasi yang dilakukan adalah edukasi berbasis digital kepada para santri melalui permainan interaktif Kahoot.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten, Eli Susianti, menegaskan bahwa Banten memiliki kekayaan wisata yang lengkap, mulai dari sejarah, religi, hingga kuliner khas yang sudah dikenal luas. Ia menilai generasi muda, termasuk santri, memiliki peran strategis dalam memperkenalkan potensi tersebut kepada masyarakat.
“Banten tidak hanya dikenal lewat wisata religi seperti Masjid Agung Banten Lama, tetapi juga memiliki jejak kuat Kesultanan Banten serta kuliner khas seperti sate bandeng dan rabeg. Ini kekuatan besar yang harus kita promosikan bersama,” ujarnya saat Pesantren Fest 2026 di kawasan tersebut, Senin (4/5/2026).
Dalam kegiatan itu, sebanyak 80 santri diajak mengenal berbagai destinasi wisata melalui kuis interaktif Kahoot yang dikemas secara kompetitif dan menyenangkan. Materi yang disampaikan meliputi situs bersejarah, wisata religi, pondok pesantren, hingga kekayaan kuliner daerah.
Suasana berlangsung meriah dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Mereka tidak hanya bermain, tetapi juga menyerap informasi penting tentang potensi wisata Banten.
Eli menambahkan, metode edukasi digital seperti ini dinilai efektif untuk meningkatkan pemahaman generasi muda. Ia berharap para santri dapat menjadi duta wisata yang aktif menyebarkan informasi positif tentang daerahnya.
“Melalui cara yang menyenangkan, kita ingin menanamkan rasa bangga terhadap Banten. Harapannya, para santri bisa menjadi agen promosi, baik di lingkungan sekitar maupun melalui media sosial,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa sektor pariwisata Banten memiliki peluang besar untuk terus berkembang melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendidikan seperti pesantren.
Sebagai bentuk apresiasi, para pemenang kuis mendapatkan hadiah berupa lomar Baduy, tumbler, dan sarung khas Banten. Dispar berharap pendekatan inovatif ini mampu memperluas jangkauan promosi wisata hingga ke generasi muda di era digital.















