Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Banner Atas Rubrik Banten
BeritaDaerahKabupaten SerangKementerianNasionalOrganisasiPemerintahPendidikanPolitikSosial

Banjir Lumpuhkan 6 Desa dari Bojonegara hingga Puloampel, Kampung Pasar Terendam hingga Setinggi Dagu

208
×

Banjir Lumpuhkan 6 Desa dari Bojonegara hingga Puloampel, Kampung Pasar Terendam hingga Setinggi Dagu

Sebarkan artikel ini

SERANG, RUBRIKBANTEN – Banjir besar melanda sedikitnya enam desa di wilayah Kecamatan Bojonegara hingga Puloampel, Kabupaten Serang, Selasa (10/3/2026). Banjir yang terjadi sejak dini hari itu disebut menjadi yang paling parah dalam beberapa tahun terakhir.

Koordinator Presidium Gerakan Masyarakat Bojonegara Puloampel (GEMA BP), Ari Dailami mengatakan, meski jumlah warga terdampak belum terdata secara pasti, banjir terjadi di sekitar enam desa, meskipun tidak merata di seluruh wilayah.

Banner

“Untuk jumlah warga terdampak kami belum bisa mengidentifikasi secara pasti. Namun yang jelas ada sekitar enam desa yang terdampak, meski hanya beberapa kampung saja yang mengalami banjir cukup parah,” kata Ari.

Beberapa desa yang terdampak di antaranya Desa Lambangsari, Mangkunegara, Karang Kepuh serta sejumlah wilayah lain di Kecamatan Bojonegara. Di beberapa desa tersebut, banjir lebih banyak menggenangi jalan dan fasilitas umum.

Di Desa Mangkunegara, tepatnya di depan Perumahan Pesona, banjir sempat cukup besar meski air tidak terlalu banyak masuk ke rumah warga karena posisi bangunan lebih tinggi.

“Kondisi hampir sama juga terjadi di Karang Kepuh, genangan lebih banyak di jalan,” ujarnya.

Hingga sore hari, genangan air masih terlihat di sejumlah titik seperti di depan kawasan Wadas, sekitar SPBU, hingga jalan masuk Kampung Cinagrek menuju Padas.

Baca juga:  Sungai Cibeber Jebol, 1.200 Warga Mengungsi

Namun, wilayah yang mengalami dampak paling parah berada di Kampung Pasar, Kecamatan Bojonegara. Di lokasi ini, ketinggian air dilaporkan mencapai lebih dari satu meter atau hampir setinggi dagu orang dewasa.

“Yang paling parah di Kampung Pasar, Bojonegara. Bahkan sampai hari ini warga di sana masih mengalami kesulitan air bersih,” ungkap Ari.

Ia menambahkan, bantuan air bersih mulai disalurkan setelah pihaknya berkomunikasi dengan sejumlah pihak. Bantuan datang dari relawan serta Perumda Air Minum (PDAM) yang mengirimkan mobil tangki air bersih.

Sementara di wilayah Kecamatan Puloampel, banjir terjadi di dua desa yakni Desa Argawana dan Desa Puloampel. Meski tidak separah di Bojonegara, sejumlah rumah warga tetap terdampak.

Di Desa Argawana, khususnya Lingkungan Cikubang, banjir disebut hampir terjadi setiap tahun. Ari menilai kondisi tersebut kemungkinan dipengaruhi aktivitas pertambangan yang semakin masif di wilayah perbukitan sekitar.

“Kalau secara ilmiah memang belum bisa dipastikan, tapi selain curah hujan tinggi ada kemungkinan juga dampak dari aktivitas pertambangan yang semakin masif,” jelasnya.

Menurutnya, jika dilihat dari jalur Bojonegara menuju Banjar, hampir seluruh perbukitan di kanan kiri jalan kini telah menjadi area pertambangan. Kondisi tersebut diduga memengaruhi wilayah hilir sehingga permukiman warga di pesisir Bojonegara lebih rentan terdampak banjir.

Baca juga:  Ebiet G Ade Bawa Ribuan Warga Cilegon Larut dalam Nostalgia di Cilegon Expo 2026

Selain itu, ia juga menyoroti adanya indikasi penyempitan aliran sungai akibat sedimentasi tanah yang terbawa dari daerah hulu. Hal tersebut membuat sungai menjadi dangkal dan tidak mampu menampung debit air saat hujan deras.

“Seharusnya ada normalisasi sungai, tapi sampai sekarang belum dilakukan,” katanya.

Ari menegaskan, banjir tahun ini merupakan yang paling parah karena genangan air bahkan sempat menutup akses jalan nasional, sesuatu yang belum pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

“Tahun-tahun sebelumnya banjir tidak pernah sampai menutup jalan nasional seperti sekarang,” ujarnya.

Terkait penanganan banjir, pemerintah daerah melalui BPBD dan Perumda Air Minum telah menyalurkan bantuan kepada warga, terutama penyediaan air bersih. Namun Ari menilai respons penanganan banjir masih tergolong lambat.

“Hujan deras mulai sekitar pukul 21.00 malam dan terus turun. Sekitar pukul 00.00 banjir mulai terjadi, pukul 01.00 air sudah masuk rumah warga. Tapi responsnya agak terlambat,” katanya.

Akibatnya, banyak warga terdampak yang tidak sempat makan sahur karena harus menyelamatkan barang-barang berharga serta mengevakuasi rumah mereka.

Example 120x600
Untitled-1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!