TANGSEL, RUBRIKBANTEN – Gubernur Banten Andra Soni menyatakan dukungannya terhadap gerakan Lumbung Dongeng Nuswantara yang berupaya mengangkat kearifan lokal Banten melalui dongeng dan film pendek sebagai media pendidikan karakter bagi anak-anak.
Dukungan tersebut disampaikan saat menerima audiensi jajaran Lumbung Dongeng Nuswantara di Kantor Gubernur Banten, eks BBLKI Serpong, Kota Tangerang Selatan, Selasa (28/7/2026).
Menurut Andra, Banten memiliki kekayaan sejarah, budaya, dan tradisi yang sangat besar dan layak dikenalkan kepada generasi muda melalui pendekatan kreatif yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Ia menyebut kisah tentang masyarakat Baduy, sejarah Kesultanan Banten, hingga keberagaman budaya Betawi, Sunda, dan Jawa Serang merupakan kekuatan daerah yang harus terus dikembangkan dan diwariskan kepada generasi muda.
“Nilai-nilai luhur itu perlu kita hidupkan kembali dengan versi yang bisa diterima anak-anak sekarang. Pengetahuan tentang leluhur dapat disampaikan melalui dongeng dan film pendek,” ujar Andra Soni.
Andra menilai karya-karya kreatif yang menampilkan sisi positif Banten dapat membantu mengubah stigma negatif yang selama ini masih melekat pada provinsi tersebut. Karena itu, Pemerintah Provinsi Banten mendukung berbagai inisiatif yang mempromosikan sejarah, budaya, pariwisata, dan kearifan lokal kepada masyarakat luas.
Sementara itu, Koordinator Lumbung Dongeng Nuswantara, Nugie, mengatakan komunitasnya ingin menghadirkan platform pendidikan yang menyenangkan melalui film bertema dongeng.
Film-film tersebut akan mengangkat nilai-nilai luhur, norma, serta pandangan hidup masyarakat Banten agar lebih mudah dipahami dan dinikmati oleh anak-anak hingga orang dewasa.
Menurut Nugie, industri perfilman saat ini lebih banyak didominasi tema drama, horor, dan konflik rumah tangga, sehingga diperlukan alternatif tontonan yang sarat pesan moral sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia.
“Kami ingin membawa Lumbung Dongeng Nuswantara masuk ke dunia pendidikan melalui film. Isinya tentang nilai-nilai luhur, norma, dan kearifan lokal yang dikemas secara menghibur sehingga bisa menjadi media belajar yang menyenangkan,” katanya.
Ia menambahkan, Banten dipilih sebagai titik awal gerakan karena memiliki kekayaan budaya yang sangat besar namun belum banyak diangkat ke layar. Selain kisah masyarakat Baduy, masih banyak tradisi, wilayah, dan nilai kehidupan masyarakat Banten yang dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk hidup selaras dengan sesama dan alam.
“Bagi kami, film dongeng adalah soft power yang efektif untuk membangun karakter, memperkuat jati diri, sekaligus mengenalkan kekayaan budaya kepada masyarakat. Kami berharap gerakan ini dapat melahirkan generasi yang lebih mengenal leluhurnya dan bangga terhadap budayanya,” ujar Nugie.















