SERANG, RUBRIKBANTEN – Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah turun langsung menyerap aspirasi petani dengan mengunjungi Kantor Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Tirtayasa, Jumat (24/4/2026). Dalam pertemuan tersebut, petani mengeluhkan kondisi irigasi yang mengalami pendangkalan sehingga berdampak pada tidak optimalnya pengolahan lahan pertanian.
Sedikitnya 1.421 hektare lahan padi dilaporkan tidak bisa ditanami secara maksimal. Permasalahan utama berasal dari kerusakan jaringan irigasi dari hulu hingga hilir yang menyebabkan distribusi air tidak berjalan baik.
Ratu Zakiyah, sapaan akrabnya, mengatakan pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan BBWSC3 untuk melakukan perbaikan. “Kami sudah bersepakat dan berkomitmen untuk memperbaiki jaringan irigasi. Namun memang membutuhkan waktu,” ujarnya kepada wartawan.
Ia menambahkan, kondisi saat ini membuat air tidak dapat menjangkau area persawahan. Karena itu, pihaknya akan terus melakukan intervensi agar penanganan bisa segera dilakukan.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Serang, Suhardjo, menjelaskan bahwa lahan terdampak tersebar di sembilan desa. Ia menyebutkan kondisi irigasi yang buruk membuat petani menghadapi dua masalah sekaligus: kelebihan air saat musim hujan dan kekurangan air saat kemarau.
“Ketika musim hujan, lahan bisa tergenang berbulan-bulan. Sebaliknya saat kemarau, petani kesulitan mendapatkan air,” katanya.
Akibat kondisi tersebut, para petani diperkirakan mengalami kerugian hingga Rp46 miliar setiap musim tanam. Suhardjo juga mengungkapkan bahwa kerusakan irigasi telah terjadi selama sekitar 30 tahun tanpa penanganan maksimal.
Salah satu petani dari Desa Alang-alang, Nafiyar, mengungkapkan kondisi irigasi yang memprihatinkan bahkan dapat memicu banjir saat hujan deras. Ia berharap pemerintah segera melakukan normalisasi saluran irigasi.
“Kami mohon segera dinormalisasi, minimal sekitar dua kilometer agar air bisa kembali lancar,” ujarnya.















