PANDEGLANG, RUBRIKBANTEN – Memasuki sepekan operasi pencarian, keberadaan delapan orang yang hilang kontak setelah speedboat yang mereka tumpangi di perairan Selat Sunda masih menjadi misteri.
Lima jurnalis, yakni M. Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudhis, Daus dan Donal, serta tiga kru kapal Warta, Sukarman dan Heriyanto, hingga kini belum ditemukan.
Di tengah pencarian yang terus dilakukan Tim SAR Gabungan bersama nelayan, muncul kesaksian dari nelayan asal Carita yang mengaku sempat melihat kapal yang diduga ditumpangi Warta pada sore hari sebelum hilang kontak.
Nelayan tersebut, Toya, mengatakan dirinya bertemu dengan Warta di laut ketika hendak kembali ke arah daratan. Pertemuan itu diperkirakan terjadi sekitar pukul 18.00 WIB hingga 18.30 WIB.
“Ketemu sore itu, tapi agak jauh. Dia sudah mau arah pulang,” ujar Toya saat ditanya mengenai pertemuannya dengan Warta.
Menurut Toya, kondisi perairan saat itu cukup berat. Ombak datang dari arah selatan, sementara angin bertiup kencang dan arus bergerak deras ke timur.
“Iya, ombak lumayan dari selatan. Angin kencang dan arus timur deras,” katanya.
Berdasarkan pengalaman Toya sebagai nelayan yang biasa beraktivitas di kawasan tersebut, kondisi arus menjadi faktor penting untuk memperkirakan kemungkinan arah hanyut apabila kapal mengalami kecelakaan atau kehilangan kendali.
Ia memperkirakan, apabila speedboat tersebut hanyut, kemungkinan besar akan terbawa menuju wilayah Lampung hingga perairan Bengkulu, termasuk kawasan Bering-Bering dan Pulau Tabuan.
“Kalau tenggelam atau hanyut, pasti larinya ke Tabuan atau Kota Agung karena terbawa arus timur dan selatan,” ujarnya.
Toya bahkan menilai kemungkinan kapal terbawa kembali ke arah Krakatau kecil. Menurutnya, derasnya arus pada saat kejadian justru berpotensi membawa benda atau kapal yang hanyut ke arah timur dan selatan.
“Kalau hanyut ke arah Krakatau itu tidak mungkin,” katanya.
Nelayan Butuh 200 Liter Solar
Toya juga menggambarkan sulitnya melakukan pencarian dengan perahu nelayan apabila wilayah pencarian diperluas hingga kawasan Tabuan atau Bering-Bering.
Menurut dia, perjalanan menggunakan perahu nelayan menuju wilayah tersebut dapat menghabiskan sekitar 200 liter solar. Sementara apabila menggunakan speedboat, kebutuhan bahan bakarnya bisa lebih besar, terutama jika mengambil jalur memotong melalui tengah laut.
“Habis 200 liter solar kalau pakai perahu ke Tabuan atau Bering-Bering. Kalau pakai speedboat harus bawa lebih banyak,” ungkapnya.
Kesaksian tersebut selanjutnya akan disampaikan kepada Basarnas sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan wilayah pencarian.
Informasi dari nelayan menjadi salah satu masukan penting karena mereka memiliki pengalaman langsung membaca karakter arus, angin, dan perairan Selat Sunda.
Namun, dugaan arah hanyut tersebut masih membutuhkan verifikasi dari Tim SAR melalui pemodelan arus, data cuaca, posisi terakhir kapal, serta temuan-temuan di lapangan.
Hingga memasuki hari ketujuh pencarian, Tim SAR Gabungan bersama unsur TNI-Polri, nelayan dan berbagai pihak masih terus berupaya menemukan delapan orang yang hilang kontak tersebut.
Keluarga korban pun masih menunggu kabar dengan harapan seluruh korban dapat segera ditemukan dalam kondisi selamat.















