CILEGON, RUBRIKBANTEN – Gerakan meningkatkan budaya literasi di Kota Cilegon terus didorong melalui keterlibatan berbagai unsur masyarakat. Tidak hanya pemerintah, aparatur sipil negara (ASN), tokoh masyarakat hingga kalangan profesional mulai didorong untuk ikut menyumbangkan buku ke perpustakaan.
Salah satunya dilakukan Kepala Bidang Koperasi pada Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil (UMK) Kota Cilegon, Hj. Atikoh. Ia kembali mendonasikan sekitar 100 buku untuk menambah koleksi perpustakaan.
Bagi Atikoh, donasi buku bukanlah hal baru. Ia mengaku telah beberapa kali menyumbangkan buku ke perpustakaan, baik saat bertugas di sejumlah kantor maupun ketika dirinya pernah menjabat sebagai Kepala Bidang di lingkungan perpustakaan.
“Sudah beberapa kali. Tiga kali di kantor lama, sekarang lima kali, dan satu kali ketika saya menjadi Kabid Perpustakaan,” kata Atikoh.
Selain menyumbangkan buku koleksi pribadi, Atikoh sebelumnya juga pernah menghibahkan sebuah novel biopik yang mengangkat kisah nyata putranya, Restu Agatha Muhajir.
Novel berjudul “Berdetak Bersamamu” tersebut ditulis sebagai persembahan dari keluarga dan para sahabat Restu. Buku itu mengisahkan perjalanan Restu sebagai penyintas penyakit jantung yang tetap menjalani hidup dengan berbagai kreativitas sebelum akhirnya berpulang kepada Sang Khalik.
Kini, Atikoh kembali menyumbangkan sekitar 100 buku sebagai bagian dari kepeduliannya terhadap pengembangan literasi masyarakat Cilegon.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Cilegon, Dr. H. Ismatullah, S.Pd, mengapresiasi langkah tersebut.
Menurutnya, budaya menyumbangkan buku perlu terus ditumbuhkan di tengah masyarakat. Donasi buku tidak harus selalu berasal dari pejabat atau pemerintah, tetapi dapat dilakukan oleh siapa pun yang memiliki koleksi buku yang sudah selesai dibaca.
“Ini yang ingin kita bangun, budaya baru. Unsur masyarakat, apakah pejabat, tokoh masyarakat, birokrat, eksekutif maupun masyarakat umum, bisa menyumbangkan buku-bukunya,” ujar Ismatullah.
Ia mengajak masyarakat untuk melihat kembali koleksi buku yang tersimpan di rumah. Buku yang sudah selesai dibaca dan tidak lagi digunakan secara pribadi dapat diserahkan kepada perpustakaan agar manfaatnya dirasakan lebih luas.
“Daripada buku-buku yang sudah selesai dibaca hanya disimpan di rumah, lebih baik diserahkan ke perpustakaan. Karena tidak semua masyarakat memiliki kemampuan untuk membeli buku,” katanya.
Menurut Ismatullah, gerakan tersebut mulai mendapat respons dari berbagai kalangan. Selain Atikoh, sejumlah pihak lainnya juga telah ikut menyumbangkan buku, termasuk Dokter Ratih dari Dinas Kesehatan Kota Cilegon serta berbagai unsur masyarakat yang peduli terhadap literasi.
Ia menilai donasi buku memiliki nilai lebih karena tidak sekadar menambah koleksi perpustakaan, tetapi juga menjadi bentuk kontribusi intelektual bagi masyarakat.
“Kalau uang atau pakaian mungkin manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh penerima. Tetapi ketika seseorang menyumbangkan buku, kemudian buku itu dibaca dan memberikan pengetahuan kepada orang lain, nilai manfaatnya bisa berlipat,” ujarnya.
Ismatullah bahkan mendorong agar donasi buku dipandang sebagai bagian dari amal jariyah, karena manfaatnya dapat terus mengalir selama buku tersebut dibaca dan memberikan pengetahuan kepada orang lain.
“Ketika kita memberikan buku, kemudian buku itu dibaca orang dan memberikan manfaat, insyaallah menjadi amal kebaikan,” tuturnya.
Ia berharap apa yang dilakukan Atikoh dan para penyumbang buku lainnya dapat menjadi contoh bagi masyarakat Cilegon. Menurutnya, literasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah maupun perpustakaan, melainkan milik seluruh masyarakat.
“Harapan kita masyarakat ikut menyumbangkan buku. Kalau saya diberi buku, saya juga akan menyumbangkan lagi. Ketika kita memiliki kelebihan, alangkah lebih baik kita sumbangkan,” kata Ismatullah.
Ia menegaskan, semakin banyak buku yang beredar dan dibaca masyarakat, semakin besar pula peluang peningkatan pengetahuan dan kualitas sumber daya manusia.
“Jangan hanya melihat manfaatnya dari sisi materi. Buku yang dibaca orang lain akan memberikan manfaat yang lebih luas. Umur buku bisa lebih panjang ketika terus dibaca dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” pungkasnya.















