SERANG, RUBRIKBANTEN – Hasil mengecewakan yang diraih kontingen Kabupaten Serang pada ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Provinsi Banten 2026 menuai sorotan. Kabupaten Serang harus puas berada di peringkat kedelapan atau posisi paling buncit dari delapan kabupaten/kota se-Banten.
Keprihatinan atas capaian tersebut disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Serang sekaligus Ketua Fraksi Demokrat, Azwar Anas, saat menemui langsung sejumlah atlet peraih medali Popda 2026, Jumat (19/6/2026). Pertemuan itu dilakukan sebagai bentuk apresiasi kepada para atlet yang telah berjuang mengharumkan nama daerah di tengah berbagai keterbatasan.
Pada Popda Banten 2026 yang digelar di Kota Cilegon, Kabupaten Serang hanya mampu mengoleksi 8 medali emas, 18 medali perak, dan 31 medali perunggu. Raihan tersebut menurun dibandingkan Popda sebelumnya yang berhasil mengumpulkan 15 medali emas.
Menurut Azwar, para atlet tetap layak mendapatkan penghargaan karena telah berjuang maksimal membawa nama Kabupaten Serang.
“Jadi kita sedikit memberikan perhatian lebih kepada teman-teman atlet supaya mereka tetap termotivasi ke depannya dan tetap bangga menjadi atlet Kabupaten Serang,” ujar Azwar.
Namun, ia menegaskan bahwa hasil terpuruk tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius bagi pemerintah daerah. Azwar menilai masih terdapat persoalan mendasar dalam pembinaan olahraga pelajar yang harus segera dibenahi.
“Secara personal dan komunikasi sudah saya sampaikan agar sampai ke Pak Sekda bahwa ini harus dibenahi. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Kita turun sampai peringkat terakhir,” tegasnya.
Azwar menyoroti besarnya kebutuhan anggaran olahraga yang belum diimbangi dengan perhatian maksimal terhadap atlet pelajar. Kondisi itu berdampak langsung terhadap kesiapan kontingen yang diberangkatkan ke Popda.
Ia mengungkapkan, dari total sekitar 238 anggota kontingen yang terdiri dari atlet dan pelatih, pemerintah daerah hanya mampu mengakomodasi sekitar 100 orang. Sementara sisanya harus berangkat secara mandiri, termasuk menanggung biaya penginapan sendiri.
“Kalau tahun-tahun sebelumnya anggarannya lebih baik. Sekarang anggaran olahraga yang dikelola sangat terbatas sehingga kemampuan untuk meng-cover atlet dan pelatih juga sangat minim,” katanya.
Selain persoalan anggaran, Azwar juga menyoroti kendala regenerasi atlet. Sistem Popda yang digelar dua tahun sekali membuat banyak atlet berprestasi pada edisi sebelumnya tidak lagi memenuhi batas usia untuk bertanding pada tahun ini.
Akibatnya, sejumlah cabang olahraga harus melakukan pembibitan ulang dari awal. Meski demikian, beberapa cabang olahraga masih mampu menyumbangkan prestasi, seperti angkat besi yang berhasil meraih tiga medali emas.
“Sebagian besar peraih emas berasal dari atlet Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP). Ini menjadi tantangan ke depan,” ujarnya.
Ia mengaku khawatir terhadap dampak pembubaran PPLP yang selama ini menjadi wadah pembinaan atlet potensial dari Kabupaten Serang. Menurutnya, banyak atlet berprestasi yang bersekolah di Kota Serang namun tetap membela Kabupaten Serang melalui program PPLP.
“Kalau PPLP benar-benar dibubarkan, sementara atlet-atlet yang selama ini menyumbang medali banyak yang sekolah di Kota Serang, tentu akan semakin berat bagi Kabupaten Serang untuk mempertahankan bahkan meningkatkan perolehan medali,” katanya.
Azwar menilai Pemerintah Kabupaten Serang perlu memberikan perhatian lebih serius terhadap sektor olahraga, khususnya pembinaan atlet usia pelajar. Ia menyebut daerah lain di Banten memiliki dukungan anggaran yang lebih besar untuk pembinaan olahraga.
“Informasi yang kami terima, beberapa kabupaten dan kota lain mengalokasikan anggaran di atas Rp600 juta, bahkan idealnya bisa mencapai Rp700 juta untuk pembinaan dan persiapan atlet,” ujarnya.
Dengan hasil Popda 2026 yang menempatkan Kabupaten Serang di posisi juru kunci, Azwar berharap pemerintah daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh agar prestasi olahraga pelajar Kabupaten Serang dapat kembali bangkit dan bersaing di tingkat Provinsi Banten.















