CILEGON, RUBRIKBANTEN — Dinas Kesehatan mencatat adanya 18 kasus HIV/AIDS hingga Februari 2026 di Kota Cilegon. Angka ini menyusul data tahun sebelumnya yang mencapai 100 kasus, dengan salah satu faktor penularan berasal dari kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL).
Fenomena tersebut menjadi perhatian serius berbagai pihak, termasuk Forum Kota Sehat yang menilai peningkatan kasus HIV tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan individu, melainkan isu kesehatan masyarakat yang membutuhkan penanganan komprehensif.
Wakil Ketua I Forum Kota Sehat, Arifin Al Bantani, menegaskan bahwa pendekatan berbasis keilmuan dan tanpa stigma menjadi kunci dalam menekan laju penyebaran HIV di masyarakat.
“Fenomena peningkatan kasus HIV di Kota Cilegon perlu kita sikapi secara bijak dan berbasis keilmuan. Ini bukan semata persoalan individu, melainkan isu kesehatan masyarakat yang memerlukan edukasi yang tepat, pendekatan tanpa stigma, serta kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.
Ia menambahkan, Forum Kota Sehat mendorong penguatan literasi kesehatan di tengah masyarakat, termasuk memperluas akses deteksi dini melalui tes HIV yang mudah dijangkau.
Selain itu, pembangunan kesadaran kolektif dinilai penting agar masyarakat tidak takut untuk memeriksakan diri, sekaligus menjalani pola hidup sehat dan bertanggung jawab.
“Dengan pendekatan yang humanis dan berbasis data, kita optimis upaya pencegahan dapat berjalan efektif serta menciptakan lingkungan kota yang lebih sehat dan inklusif,” tambahnya.
Upaya kolaboratif antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat diharapkan mampu menekan angka penularan HIV di Kota Cilegon, sekaligus menghapus stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).















