CILEGON, RUBRIKBANTEN — Wali Kota Cilegon Robinsar mengungkap kisah perjalanan hidup dan pengabdiannya dalam mengelola Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang membawanya hingga ke kursi kepala daerah. Hal itu disampaikannya saat pelantikan Pengurus DKM Masjid Agung Nurul Ikhlas periode 2026–2029.
Robinsar menyebut, dirinya pernah mengurus DKM selama kurang lebih tiga tahun. Dari pengabdian itulah, jalan hidupnya justru mengantarkan ia menjadi Wali Kota Cilegon.
“Saya ini dulu juga mengurus DKM. Tiga tahun mengabdi di DKM, lalu Allah mentakdirkan saya menjadi wali kota,” ungkap Robinsar.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung sosok Kiyai Selamet, yang memiliki latar belakang yang sama dengannya. Keduanya diketahui berasal dari lingkungan yang sama dan merupakan lulusan Gintung.
Menurut Robinsar, Kiyai Selamet menempuh jalan pengabdian yang lebih panjang di dunia keagamaan. Selama enam tahun mengurus DKM, Kiyai Selamet kemudian dikenal dan diakui sebagai seorang kiai oleh masyarakat.
“Kami sama-sama dari Gintung. Beliau enam tahun mengabdi sebagai pengurus DKM hingga akhirnya menjadi kiai,” ujarnya.
Robinsar pun berseloroh bahwa jika dirinya ingin benar-benar menjadi kiai, maka ia harus lebih lama lagi mengabdi di DKM dan menempuh proses yang tidak singkat.
“Kalau saya ingin jadi kiai, ya harus enam tahun juga mengurus DKM,” katanya sambil tersenyum.
Pernyataan tersebut menjadi refleksi bahwa pengabdian di masjid bukan sekadar jabatan, melainkan proses panjang pembentukan karakter, kepemimpinan, dan keteladanan. Robinsar berharap, pengurus DKM yang baru dilantik mampu menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat dan lahirnya pemimpin-pemimpin masa depan.















