CILEGON, RUBRIKBANTEN – Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon mulai menyiapkan program pembuatan biopori sebagai salah satu upaya mengurangi genangan air dan meminimalisir risiko banjir di sejumlah wilayah.
Wali Kota Cilegon, Robinsar, mengatakan pelaksanaan program biopori masih dalam tahap koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk penentuan lokasi yang sesuai berdasarkan kondisi kontur tanah.
“Program biopori itu nanti menyesuaikan. Tadi juga sudah disampaikan oleh pihak manajemen, tinggal kita koordinasikan titik-titik yang akan menjadi lokasi pengerjaannya. Tipe dan desainnya juga akan disesuaikan dengan kontur tanah di masing-masing wilayah,” ujar Robinsar, Selasa (14/7/2026).
Menurutnya, konsep pelaksanaan program tersebut telah disiapkan. Namun, Pemkot Cilegon saat ini masih memprioritaskan penanganan banjir yang bersifat mendesak, sementara pembangunan biopori akan dilakukan secara bertahap sebagai langkah jangka panjang.
Robinsar mengakui kapasitas biopori memiliki keterbatasan sehingga tidak dapat menampung seluruh volume air hujan ketika intensitas hujan tinggi. Meski demikian, keberadaan biopori diyakini mampu mengurangi genangan di kawasan permukiman.
“Biopori ini skalanya memang kecil dan sifatnya lebih sebagai solusi pendukung. Tidak mungkin menampung seluruh volume air hujan, tetapi setidaknya bisa membantu mengurangi genangan, terutama di gang-gang atau kawasan yang sering tergenang,” jelasnya.
Ia menambahkan, penentuan target lokasi pembangunan biopori akan dilakukan berdasarkan kajian teknis dan berkoordinasi dengan perangkat daerah yang membidangi sumber daya air agar manfaatnya lebih optimal.
Melalui program tersebut, Pemkot Cilegon berharap upaya pengendalian banjir tidak hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur besar, tetapi juga didukung langkah-langkah konservasi sederhana seperti biopori yang mampu meningkatkan daya resap air di kawasan perkotaan.















