CILEGON, RUBRIKBANTEN — PLN Indonesia Power UBP Suralaya menggelar simulasi tanggap darurat gempa bumi dan tsunami sebagai upaya memperkuat budaya keselamatan kerja sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di lingkungan pembangkit.
Kegiatan yang berlangsung pada 30 Juli tersebut diikuti General Manager UBP Suralaya Burlian Prasetyo, jajaran manajemen, insan UBP Suralaya, serta mitra kerja.
Simulasi ini tidak sekadar menjadi latihan rutin, tetapi juga menjadi sarana untuk menguji sejauh mana kesiapan pekerja dalam merespons kondisi darurat, termasuk efektivitas koordinasi dan proses evakuasi.
Rangkaian simulasi diawali dengan pembunyian sirine peringatan pertama sebagai tanda terjadinya gempa bumi. Seluruh peserta kemudian melakukan tindakan perlindungan diri sesuai prosedur keselamatan yang telah ditetapkan.
Setelah sirine kedua dibunyikan sebagai tanda dimulainya proses evakuasi, seluruh pegawai bergerak menuju titik kumpul melalui jalur evakuasi yang telah ditentukan. Proses tersebut dilakukan di bawah arahan koordinator tanggap darurat.
General Manager UBP Suralaya Burlian Prasetyo mengatakan, simulasi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun dan memperkuat budaya keselamatan di lingkungan kerja.
“Kami berharap simulasi ini dapat meningkatkan kesiapsiagaan seluruh pegawai sehingga mampu merespons kondisi darurat secara cepat, tepat, dan sesuai prosedur,” ujarnya.
Menurutnya, kesiapsiagaan menjadi faktor penting dalam menghadapi potensi keadaan darurat, terutama di lingkungan operasional pembangkit yang memiliki peran strategis dalam menjaga keandalan pasokan listrik.
Melalui simulasi tersebut, UBP Suralaya terus memperkuat penerapan budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) serta kesiapsiagaan bencana. Langkah preventif ini dilakukan untuk melindungi pekerja, menjaga aset perusahaan, sekaligus memastikan operasional pembangkit tetap berjalan dalam mendukung penyediaan listrik yang andal bagi masyarakat.













