Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Banner Atas Rubrik Banten
BeritaDaerahEkonomiKementerianKota CilegonNasionalPemerintahPendidikanPolitikSosial

Pemkot Cilegon Buka-Bukaan ke Mahasiswa, Robinsar–Fajar Klaim Keuangan Bangkit dari Defisit Rp135 Miliar

124
×

Pemkot Cilegon Buka-Bukaan ke Mahasiswa, Robinsar–Fajar Klaim Keuangan Bangkit dari Defisit Rp135 Miliar

Sebarkan artikel ini

CILEGON, RUBRIKBANTEN – Pemerintah Kota Cilegon menggelar dialog terbuka bersama mahasiswa se-Kota Cilegon sebagai momentum refleksi satu tahun kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Cilegon. Kegiatan yang berlangsung di Rumah Dinas Wali Kota Cilegon, Jumat (20/2/2026), itu menjadi ajang adu gagasan, kritik, sekaligus evaluasi kinerja pemerintahan.

Dialog tersebut dihadiri langsung oleh Wali Kota Cilegon Robinsar, Wakil Wali Kota Cilegon Fajar Hadi Prabowo, jajaran pejabat eselon II dan III, serta perwakilan organisasi kemahasiswaan seperti HMI, GMNI, IMC, PMII, Forum BEM Cilegon, Inspira, dan unsur media.

Banner

Dalam sambutannya, Robinsar menegaskan bahwa mahasiswa merupakan mitra strategis pemerintah dalam mengawal pembangunan. Ia menyebut kritik dan saran sebagai energi perbaikan tata kelola pemerintahan.

“Kami sangat terbuka. Kritik dan masukan dari rekan-rekan mahasiswa sangat dibutuhkan demi kebaikan bersama di Kota Cilegon,” tegasnya.

Robinsar mengungkapkan, pada awal masa jabatan, Pemerintah Kota Cilegon menghadapi beban utang daerah sekitar Rp135 miliar yang berdampak pada keterbatasan ruang fiskal. Kondisi tersebut memaksa pemerintah melakukan rasionalisasi besar-besaran pada 2025.

Baca juga:  PLN Setor Rp65,59 Triliun ke Negara! Laba Tembus Rekor, Bukti BUMN Listrik Ini Makin Perkasa

“Kami memangkas kegiatan yang kurang prioritas dan menyesuaikan target pendapatan. Alhamdulillah, akhir 2025 Cilegon tidak lagi defisit dan justru memiliki Silpa sekitar Rp80 miliar,” ujarnya.

Menurutnya, membaiknya kondisi keuangan daerah berdampak langsung pada pemenuhan hak-hak masyarakat, termasuk guru, guru ngaji, hingga pemandi jenazah yang sebelumnya terdampak keterbatasan anggaran.

Dalam forum tersebut, Robinsar memaparkan tiga sektor utama yang menjadi prioritas pembangunan, yakni kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.

Di sektor pendidikan, Pemkot meningkatkan kuota beasiswa dari 511 menjadi 726 penerima. Selain itu, dilakukan perbaikan sarana-prasarana sekolah serta penargetan penyediaan mebel untuk 400 rombongan belajar dalam empat tahun ke depan, termasuk melalui skema CSR.

Pada sektor kesehatan, pemerintah menargetkan pembangunan satu puskesmas rawat inap setiap tahun di tiap kecamatan, dengan pilot project di Kecamatan Grogol. Layanan puskesmas 24 jam dan program Dokter Keliling (Docling) juga terus dioptimalkan.

Sementara di bidang infrastruktur, Pemkot mempertegas skala prioritas perbaikan jalan kota serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dan provinsi. Hasilnya, bantuan pendanaan tahap pertama sebesar Rp32 miliar telah terealisasi, dan tahap kedua sebesar Rp33 miliar tengah dipersiapkan.

Baca juga:  Banten Jadi Tuan Rumah Nasional Posbakum, 108 Paralegal Serang Dikerahkan Sambut Prabowo Subianto

Pada kesempatan yang sama, Fajar Hadi Prabowo menekankan bahwa kontrol sosial dari kalangan pemuda dan mahasiswa menjadi indikator sehatnya demokrasi daerah.

“Yang harus diwaspadai justru ketika pemudanya diam. Kritik dari mahasiswa adalah bentuk kecintaan terhadap Kota Cilegon,” ujarnya.

Ia menegaskan, kehadiran jajaran ASN dan kepala OPD dalam dialog tersebut bertujuan agar seluruh aspirasi tidak berhenti di pimpinan daerah, melainkan menjadi catatan dan tanggung jawab bersama.

“Kami membuka ruang seluas-luasnya. Dari A sampai Z silakan disampaikan. Kami ingin mendengar langsung agar perbaikan tata kelola benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat,” tambahnya.

Menutup dialog, Fajar berharap forum komunikasi antara pemerintah dan mahasiswa dapat menjadi budaya baru dalam memperkuat kolaborasi pentahelix di Kota Cilegon. Ia menekankan bahwa pembangunan bukan hanya soal hasil akhir, tetapi proses yang harus melibatkan seluruh elemen masyarakat.

“Kami percaya pemerintahan harus berorientasi pada proses. Mahasiswa harus hadir mengisi ruang-ruang itu agar pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat luas,” pungkasnya.

Example 120x600
Untitled-1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!