Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Banner Atas Rubrik Banten
BeritaDaerahKementerianNasionalOpiniPemerintahPendidikanSosial

Memulihkan Wajah Kemanusiaan di Tengah Arus Digitalisasi

83
×

Memulihkan Wajah Kemanusiaan di Tengah Arus Digitalisasi

Sebarkan artikel ini

Oleh : Arifin Al Bantani

​Di era di mana dunia terasa begitu sempit akibat koneksi digital, sebuah ironi besar sedang terjadi: jarak antarmanusia justru terasa semakin lebar. Layar gawai kita setiap hari dibanjiri oleh angka-angka statistik tragedi, potongan video konflik global, hingga narasi kebencian yang membelah masyarakat. Dalam riuhnya arus informasi tersebut, kita sering kali hanya menjadi penonton yang pasif—menggulir layar melewati berita duka, atau paling maksimal, memberikan tanda “suka” sebagai pengganti simpati.

Banner

​Kenyataan ini membawa kita pada satu pertanyaan eksistensial: di mana sebenarnya letak kemanusiaan kita hari ini? Apakah ia telah tereduksi menjadi sekadar algoritma dan validasi digital?

​Kemanusiaan bukanlah sebuah konsep abstrak yang hanya muncul saat bencana alam besar melanda atau ketika perayaan seremonial belaka. Ia bukan sekadar bantuan logistik atau kampanye penggalangan dana yang masif. Kemanusiaan yang paling murni justru hidup dalam detak-detak kecil yang sunyi. Ia ada pada kesediaan kita untuk berhenti sejenak, menanggalkan ego, dan benar-benar “melihat” manusia lain di hadapan kita sebagai subjek yang utuh, bukan sekadar objek di layar.

Baca juga:  ASTRA Infra Kasih Diskon 20% Tarif Tol: Mudik Lebih Hemat, Perjalanan Dijamin Aman dan Nyaman

​Filsuf Hannah Arendt pernah mengingatkan kita tentang “banalitas kejahatan”, di mana salah satu akarnya adalah ketidakpedulian dan hilangnya kemampuan untuk berpikir dari sudut pandang orang lain. Di ruang digital, fenomena ini mengental. Saat kita mulai menganggap orang lain hanya sebagai “profil”, “avatar”, atau “lawan debat”, di situlah kemanusiaan kita mulai terkikis. Kita lupa bahwa di balik setiap wajah yang kita temui di jalan atau setiap komentar yang kita baca, ada seorang manusia yang memikul beban, harapan, dan ketakutan yang sama besarnya dengan yang kita miliki.

​Menjadi manusia di abad ke-21 berarti memiliki keberanian untuk menjadi rentan. Inspirasi terbesar dalam kemanusiaan sering kali datang bukan dari mereka yang perkasa, melainkan dari mereka yang memilih untuk tetap berbuat baik meski sedang terluka. Kita melihatnya pada seorang pedagang kecil yang tetap menyisihkan sebagian dagangannya untuk sesama yang lebih membutuhkan, atau pada individu yang memilih memaafkan ketika ia memiliki segala alasan untuk membalas dendam. Inilah momen di mana kemanusiaan bersinar paling terang; sebuah tindakan yang melampaui sekat suku, agama, dan status sosial.

Baca juga:  PLN Imbau Warga Pastikan Listrik Rumah Aman Sebelum Mudik Lebaran

​Lebih jauh lagi, memulihkan kemanusiaan memerlukan komitmen untuk merawat empati di tengah dunia yang sering kali memaksa kita menjadi dingin dan mekanis. Kita tidak harus menjadi pahlawan besar untuk menyelamatkan peradaban. Kita hanya perlu menjadi manusia yang bersedia mendengar tanpa menghakimi, dan memberi tanpa merasa lebih tinggi. Seperti yang sering ditekankan oleh tokoh kemanusiaan kita, Gus Dur, bahwa “di atas politik, ada kemanusiaan.” Pesan ini menjadi sangat relevan saat ini untuk mengingatkan bahwa segala bentuk pencapaian teknologi dan politik akan kehilangan maknanya jika ia mengabaikan martabat manusia.

​Pada akhirnya, menjaga kemanusiaan adalah sebuah kerja keras yang kontinyu—sebuah pilihan sadar setiap hari. Karena pada titik terendah hidup kita kelak, yang kita butuhkan bukanlah kecanggihan kecerdasan buatan atau validasi dari ribuan pengikut di dunia maya. Kita akan mencari tangan manusia lain yang mampu menggenggam erat dan berkata, “Aku di sini, dan aku mengerti.” Itulah satu-satunya hal yang membuat hidup ini layak dijalani dan membuat kita tetap pantas disebut sebagai manusia.

Example 120x600
Untitled-1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!