SERANG, RUBRIKBANTEN – Kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu harus dimulai dari gerakan besar. Langkah sederhana seperti memilah dan mengumpulkan botol plastik bekas justru dapat menjadi bagian penting dalam membangun budaya peduli lingkungan di lingkungan kampus.
Hal tersebut tercermin dari program Universitas Faletehan yang menyediakan tempat pengumpulan botol plastik bekas di sejumlah titik strategis, mulai dari depan ruang kelas, gedung perkuliahan hingga area umum kampus.
Botol plastik yang terkumpul selanjutnya dikelola untuk didaur ulang maupun dimanfaatkan kembali. Program ini menjadi salah satu bentuk penerapan nilai inovasi dan keberlanjutan yang dapat didukung oleh seluruh warga kampus, khususnya mahasiswa.
Gagasan tersebut diangkat oleh Kelompok 1 kelas 2A dalam mata kuliah Kefaletehanan. Kelompok yang terdiri dari Eni Nur’aeni, Nurul Aulia, Indah Kurniyawati P, Agniar Cahya, Batrisyia Fakhira, M. Suhada, Didin Hidayat, dan Giatul Khosiah itu menyusun refleksi mengenai pentingnya inovasi dan kepedulian lingkungan di bawah bimbingan dosen Muhammad Lukman.
Dalam tulisan tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa setiap zaman memiliki tantangan tersendiri. Jika Raden Fatahillah pada masanya berjuang membangun peradaban, mahasiswa masa kini dituntut mampu mengenali, mendukung, dan mengimplementasikan nilai-nilai keberlanjutan.
Program pengumpulan botol plastik itu dinilai mencerminkan lima nilai utama Kefaletehanan.
Pertama, intelektualitas, yakni membangun kesadaran kritis bahwa sampah plastik bukan sekadar persoalan kebersihan, melainkan tantangan lingkungan dan peradaban.
Kedua, adaptabilitas, yaitu kemampuan mengubah kebiasaan dengan membiasakan diri memilah dan membuang sampah sesuai tempat yang telah disediakan.
Ketiga, inovasi, melalui penerapan solusi sederhana yang memiliki dampak positif bagi lingkungan.
Keempat, kepemimpinan berintegritas, yang ditunjukkan melalui keteladanan kampus dalam membangun budaya peduli lingkungan serta tanggung jawab mahasiswa dalam mendukung program tersebut.
Kelima, kemanfaatan sosial, yakni memastikan pengelolaan sampah plastik memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Melalui keteladanan Raden Fatahillah, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi pribadi yang unggul secara akademis, tetapi juga mampu beradaptasi dan mengambil peran dalam menghadirkan perubahan nyata.
Bahkan, tindakan sederhana seperti memasukkan botol plastik bekas ke tempat pengumpulan yang telah disediakan merupakan bentuk partisipasi mahasiswa sebagai agen perubahan.
Pada akhirnya, nilai Kefaletehanan tidak hanya dipahami sebagai materi pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Kepedulian terhadap lingkungan, dukungan terhadap inovasi kampus, serta komitmen terhadap kemaslahatan masyarakat menjadi bagian dari tanggung jawab mahasiswa dalam membangun peradaban yang lebih baik.















