Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Banner Atas Rubrik Banten
BeritaDaerahKementerianKota CilegonNasionalOpiniPemerintahPendidikanSosial

Istighosah: Spirit Kebersamaan di Era Kesepian Virtual

395
×

Istighosah: Spirit Kebersamaan di Era Kesepian Virtual

Sebarkan artikel ini

Oleh Arifin Al Bantani

Generasi muda hidup pada sebuah zaman yang oleh banyak filsuf kontemporer disebut sebagai era disorientasi makna. Kemajuan material dan teknologi tidak selalu disertai dengan kejernihan moral. Di tengah kelelahan eksistensial, krisis kepercayaan, dan rapuhnya solidaritas sosial, muncul pertanyaan mendasar: dari manakah sumber etika publik dapat ditumbuhkan kembali? Dalam tradisi Islam, istighosah—doa kolektif memohon pertolongan Tuhan—dapat dibaca bukan sekadar sebagai ritual devosional, melainkan sebagai praksis filosofis yang membentuk kesadaran moral.

Banner

Dalam konteks ini, istighosah berpotensi menjadi gerakan moral generasi muda.

Imam Al-Ghazali memandang krisis moral manusia berakar pada keterputusan antara ilmu, amal, dan kesadaran hati (qalb). Dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, ia menegaskan bahwa pengetahuan tanpa penyucian jiwa hanya akan melahirkan kesombongan intelektual. Istighosah, jika dibaca melalui kerangka Al-Ghazali, merupakan latihan kerendahan ontologis: pengakuan bahwa manusia, betapapun cerdas dan kuat, tetap berada dalam keterbatasan. Bagi generasi muda, sikap ini penting sebagai fondasi etika, sebab kesadaran akan keterbatasan diri merupakan syarat utama lahirnya tanggung jawab moral.

Sementara itu, Imam Abul Hasan asy-Syadzili menekankan dimensi tawakkul aktif. Dalam ajarannya, bersandar kepada Tuhan tidak berarti menarik diri dari dunia, tetapi justru meneguhkan keberanian untuk hadir di tengah realitas sosial. Istighosah dalam perspektif Syadziliyah bukan pelarian spiritual, melainkan penguatan batin agar manusia mampu bertindak dengan jujur dan adil. Dengan demikian, ketika generasi muda melakukan istighosah, mereka sedang membangun etika keberanian—keberanian untuk menolak kezaliman, melawan kebatilan, dan memperjuangkan kemaslahatan.

Baca juga:  Serang Jadi Lumbung Pangan Banten, Produksi Padi Surplus 591 Ribu Ton

Secara filosofis, istighosah juga dapat dipahami sebagai praksis pembentukan kesadaran kolektif. Etika kontemporer, khususnya dalam pemikiran filsafat moral komunitarian, menekankan bahwa nilai-nilai moral tidak lahir dalam ruang hampa individual, melainkan dalam relasi sosial. Doa bersama menciptakan ruang simbolik di mana individu menyadari keterikatannya dengan yang lain. Dalam istighosah, generasi muda belajar bahwa penderitaan bukan hanya urusan pribadi, dan harapan bukan milik individu semata, melainkan tanggung jawab bersama.

Dalam dialog dengan etika kontemporer, istighosah juga berfungsi sebagai kritik terhadap rasionalitas instrumental yang dominan. Dunia modern sering menilai segala sesuatu dari aspek kegunaan dan efisiensi. Istighosah menghadirkan jeda eksistensial—ruang kontemplasi di mana nilai diukur bukan dari keuntungan, tetapi dari keikhlasan dan orientasi pada kebaikan.

Dari sinilah lahir etika kepedulian (ethics of care), yang menekankan empati, perhatian, dan tanggung jawab terhadap yang rentan.

Sebagai gerakan moral, istighosah tidak berhenti pada dimensi batiniah. Al-Ghazali menegaskan bahwa kesalehan sejati selalu menuntut manifestasi sosial. Kesadaran yang lahir dari doa harus menjelma dalam kejujuran, amanah, dan keberpihakan kepada keadilan. Dalam konteks generasi muda, ini berarti menjadikan istighosah sebagai sumber etos hidup: integritas dalam belajar, keberanian bersikap etis di ruang publik, serta komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal.

Baca juga:  GMNI Cilegon Gugat Utang Triliunan Krakatau Steel: Revitalisasi atau Sekadar Menunda Krisis Nasional

Pada akhirnya, istighosah sebagai gerakan moral generasi muda adalah upaya menjembatani spiritualitas klasik dan tantangan etika modern. Ia menyatukan kesadaran transenden Al-Ghazali, keberanian praksis Imam Syadzili, dan kepekaan sosial etika kontemporer. Di tengah dunia yang bising dan terfragmentasi, istighosah menghadirkan bahasa moral yang sunyi namun kuat—sebuah pengingat bahwa perubahan sosial yang berkelanjutan selalu bermula dari pembaruan hati.

Baik – Buruk ” itu tidak “Relatif” untuk orang yg mengenal “Common Sense”.

Example 120x600
Untitled-1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!