LEBAK, RUBRIKBANTEN – Polemik yang mencuat antara Bupati dan Wakil Bupati Lebak dalam acara halal bihalal menuai sorotan. Koordinator Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Provinsi Banten, Dedy Arisandi, menilai insiden tersebut menjadi alarm penting untuk menjaga etika komunikasi di ruang publik.
Menurut Dedy, momentum halal bihalal seharusnya menjadi ruang mempererat silaturahmi dan saling memaafkan, bukan justru membuka persoalan pribadi di hadapan publik.
“Halal bihalal itu ruang kebersamaan, bukan tempat menyampaikan hal-hal yang bersifat personal. Kurang elok jika itu dilakukan dalam forum terbuka,” ujarnya.
Ia menegaskan, sebagai pemimpin publik, setiap ucapan memiliki dampak luas, terlebih jika disampaikan di hadapan aparatur sipil negara (ASN) dan masyarakat.
“Hal-hal sensitif terkait masa lalu seseorang sebaiknya tidak diungkap di ruang publik. Kita harus menjaga marwah kepemimpinan,” tegasnya.
Dedy juga menilai reaksi yang ditunjukkan Wakil Bupati merupakan respons yang manusiawi. Menurutnya, siapa pun akan bereaksi jika hal pribadi disinggung di depan umum.
“Itu hal yang wajar dari sisi kemanusiaan,” katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya kedua pimpinan daerah untuk segera meredam ketegangan dan kembali membangun komunikasi yang harmonis demi kelangsungan pemerintahan.
“Kami berharap keduanya bisa cooling down, saling memahami, dan tidak membiarkan persoalan ini berlarut-larut,” ujarnya.
Ia mengingatkan, konflik yang terus memanas berpotensi mengganggu jalannya pemerintahan dan pembangunan daerah. Karena itu, masyarakat diminta tidak terpancing situasi.
“Jika dibiarkan, dampaknya bisa meluas hingga menghambat pembangunan,” katanya.
Dedy menegaskan, sinergi antara Bupati dan Wakil Bupati merupakan kunci utama keberhasilan kepemimpinan daerah.
“Keduanya adalah satu kesatuan. Harus saling menguatkan, melengkapi, dan menjaga soliditas,” imbuhnya.
Menutup pernyataannya, Dedy mengajak semua pihak menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran penting dalam beretika di ruang publik.
“Kepemimpinan bukan hanya soal kewenangan, tetapi juga keteladanan dalam sikap dan tutur kata,” pungkasnya.















