Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Banner Atas Rubrik Banten
BeritaDaerahOpiniPemerintahPendidikanSosial

Energi, Kekuasaan, dan Nasib Manusia Kecil

88
×

Energi, Kekuasaan, dan Nasib Manusia Kecil

Sebarkan artikel ini

Oleh: Arifin Al Bantani

​Di meja-meja perundingan global yang berlapis marmer, energi sering kali dibahas sebagai angka statistik, kuota produksi, atau instrumen tawar-menawar geopolitik. Namun, di gang-gang sempit Nusantara, energi adalah detak jantung kehidupan. Ketika tensi kekuatan besar di belahan bumi utara memanas, guncangannya tidak hanya meruntuhkan bursa saham, tetapi menghantam langsung piring nasi manusia-manusia kecil yang tak pernah tahu di mana letak koordinat konflik tersebut.

Banner

​Kita hari ini terjebak dalam apa yang oleh para pemikir disebut sebagai Trilema Energi: sebuah tegangan tanpa putus antara keamanan energi (security), keadilan energi (equity), dan keberlanjutan lingkungan (sustainability). Tragisnya, dalam perebutan kekuasaan global, unsur “keadilan” sering kali menjadi tumbal pertama. Energi telah bermutasi menjadi senjata diplomasi yang dingin—sebuah instrumen yang sanggup mematikan industri sebuah bangsa atau membekukan denyut nadi ekonomi warga dalam semalam.

​Bagi Indonesia, carut-marut geopolitik ini adalah cermin retak dari kedaulatan kita. Sebagai bangsa yang kaya akan sumber daya namun masih terbelenggu dalam rantai pasok fosil global, kita berada dalam posisi “kerentanan asimetris”. Setiap kenaikan harga minyak dunia memaksa negara berdiri di persimpangan moral yang perih: menguras APBN demi subsidi atau membiarkan inflasi mencekik rakyat jelata. Di sinilah letak ketidakadilan sistemik itu; keputusan politik di ibu kota dunia berujung pada mahalnya biaya melaut bagi nelayan di pelosok dan redupnya lampu di rumah-rumah buruh harian.

Baca juga:  HMI Laporkan Kebocoran Vopak, 46 Korban Jadi Alarm Pidana Lingkungan

​Secara intelektual, kita harus menyadari bahwa krisis ini bukan sekadar soal kelangkaan sumber daya, melainkan soal “Kemiskinan Struktural Energi”. Transisi menuju energi terbarukan—yang melimpah di bumi Nusantara—seharusnya tidak hanya dibaca sebagai agenda lingkungan, tetapi sebagai upaya dekolonisasi energi. Kita harus melepaskan diri dari ketergantungan pada fluktuasi politik luar negeri dan mulai membangun kedaulatan dari matahari, angin, dan panas bumi yang kita miliki.

​Namun, transisi ini harus berlandaskan pada etika Keadilan Epistemik. Jangan sampai narasi “ekonomi hijau” global justru menjadi bentuk baru imperialisme yang membebankan biaya mahal pada negara berkembang demi menebus dosa emisi negara maju. Peradaban yang luhur bukanlah peradaban yang mampu memproduksi energi paling besar, melainkan peradaban yang mampu memastikan bahwa setiap watt listrik yang mengalir membawa martabat bagi mereka yang paling lemah.

​Pada akhirnya, isu energi dan geopolitik adalah ujian bagi moralitas kekuasaan. Kekuasaan yang autentik tidak diukur dari seberapa besar kendali atas sumur minyak dunia, tetapi dari seberapa tangguh ia menjadi perisai bagi rakyatnya. Di tengah badai perebutan kuasa global, tugas negara adalah memastikan bahwa cahaya harapan di rumah rakyat kecil tidak padam hanya karena ego para penguasa di panggung dunia. Kita harus berani menegaskan bahwa di atas kepentingan energi dan kekuasaan, nasib manusia adalah hukum tertinggi (Salus Populi Suprema Lex Esto).

Example 120x600
Untitled-1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!