SERANG, RUBRIKBANTEN – Perekonomian Provinsi Banten menunjukkan kinerja positif pada triwulan I 2026 dengan pertumbuhan mencapai 5,64 persen secara tahunan (year-on-year), melampaui rata-rata nasional sebesar 5,61 persen. Pertumbuhan ini turut diikuti perbaikan kondisi ketenagakerjaan, meski masih menyisakan tantangan pada kualitas pekerjaan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten, Yusniar Juliana, mengungkapkan bahwa selain tumbuh secara tahunan, ekonomi Banten juga mengalami ekspansi sebesar 1,01 persen secara triwulanan (q-to-q) dibandingkan triwulan IV 2025.
Secara nominal, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Banten pada triwulan I 2026 tercatat sebesar Rp247,20 triliun atas dasar harga berlaku dan Rp144,96 triliun atas dasar harga konstan 2010.
“Struktur ekonomi Banten masih didominasi sektor industri pengolahan dengan kontribusi 30,02 persen, disusul perdagangan, konstruksi, serta transportasi dan pergudangan. Keempat sektor ini menyumbang lebih dari 70 persen terhadap perekonomian daerah,” jelas Yusniar.
Dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencatat pertumbuhan tertinggi hingga 17,88 persen secara tahunan. Lonjakan ini dipengaruhi musim panen dan meningkatnya aktivitas produksi.
Sektor lain yang turut tumbuh signifikan antara lain penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 15,29 persen, transportasi dan pergudangan 13,84 persen, serta jasa pendidikan 5,58 persen.
Secara triwulanan, pertumbuhan ekonomi juga dipicu faktor musiman. Sektor pertanian melonjak 27,53 persen, diikuti akomodasi dan makan minum 8,95 persen, jasa keuangan 5,48 persen, serta transportasi dan pergudangan 4,27 persen.
“Ini menunjukkan peningkatan konsumsi masyarakat, aktivitas pariwisata, serta distribusi logistik menjadi penggerak utama ekonomi di awal tahun,” tambahnya.
Sejalan dengan itu, kondisi ketenagakerjaan juga mengalami perbaikan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2026 tercatat 6,59 persen, turun 0,05 poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Jumlah penduduk bekerja mencapai 5,83 juta orang atau bertambah sekitar 26 ribu orang. Sementara jumlah pengangguran menurun menjadi sekitar 411 ribu orang.
Sektor pertanian menjadi penyumbang terbesar penyerapan tenaga kerja dengan tambahan sekitar 99 ribu orang. Selain itu, sektor perdagangan dan industri masih menjadi penopang utama lapangan kerja di Banten.
Namun demikian, kualitas pekerjaan masih menjadi catatan. Proporsi pekerja formal justru menurun menjadi 52,19 persen atau turun 1,18 poin dibandingkan Februari 2025. Hal ini menandakan masih tingginya pekerja di sektor informal.
Di sisi lain, indikator jam kerja menunjukkan perbaikan dengan 78,40 persen pekerja tergolong penuh waktu. Angka pekerja paruh waktu dan setengah pengangguran juga mengalami penurunan.
Yusniar menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi mulai memberikan dampak nyata terhadap pasar tenaga kerja, meski belum sepenuhnya berkualitas.
“Penguatan sektor pertanian, meningkatnya aktivitas jasa, serta stabilnya perdagangan dan industri menjadi pendorong utama penyerapan tenaga kerja. Namun, peningkatan kualitas pekerjaan, terutama di sektor formal, masih menjadi pekerjaan rumah ke depan,” pungkasnya.















