JAKARTA, RUBRIKBANTEN – Pertemuan antara Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri menjelang Idul Fitri dinilai sebagai pesan kuat rekonsiliasi nasional yang mampu meredakan polarisasi sekaligus memperkuat persatuan bangsa di tengah tekanan global.
Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15, Bambang Soesatyo, menegaskan bahwa pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dengan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri membawa pesan kuat tentang pentingnya rekonsiliasi nasional.
Menurut Bamsoet, perayaan Idul Fitri harus dimaknai sebagai momentum strategis untuk memperkuat persatuan bangsa di tengah berbagai tantangan, mulai dari polarisasi sosial-politik, tekanan ekonomi, hingga dampak krisis global.
“Idul Fitri harus kita maknai sebagai momentum rekonsiliasi nasional. Tradisi saling memaafkan menjadi kekuatan sosial yang mampu meredakan polarisasi dan mempererat kembali hubungan antar elemen bangsa,” ujar Bamsoet di Jakarta, Sabtu (21/03/2026).
Ia mengapresiasi pertemuan kedua tokoh bangsa tersebut sebagai sinyal positif bagi rekonsiliasi nasional sekaligus konsolidasi pemerintahan. Di tengah isu konflik global dan dinamika geopolitik, komunikasi antar tokoh dinilai penting untuk menjaga stabilitas nasional.
“Pertemuan Presiden Prabowo dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menjadi pesan kuat bahwa persatuan adalah kunci utama pembangunan. Ini sekaligus mempertegas stabilitas pemerintahan Prabowo-Gibran yang semakin solid,” kata Bamsoet.
Lebih lanjut, Bamsoet menilai stabilitas politik merupakan fondasi penting dalam menjaga kepercayaan publik dan dunia usaha, serta memastikan agenda pembangunan nasional berjalan berkelanjutan.
Ia juga menekankan bahwa Idul Fitri memiliki dimensi strategis dalam membangun optimisme nasional. Setelah menjalani bulan Ramadan, masyarakat memasuki fase baru dengan semangat kebersamaan yang dapat menjadi modal sosial bagi pembangunan.
“Optimisme bersama yang lahir dari Idul Fitri harus dijaga dan diarahkan. Ini adalah energi sosial yang jika dikelola dengan baik dapat memperkuat persatuan dan mendorong percepatan pembangunan nasional,” jelasnya.
Bamsoet menambahkan, optimisme tersebut harus diimbangi dengan kebijakan yang responsif terhadap tantangan seperti kesenjangan ekonomi, potensi polarisasi politik, dan disrupsi digital.
“Momentum Idul Fitri harus menjadi titik awal untuk memperkuat persatuan bangsa secara nyata. Seluruh elemen bangsa perlu menjaga semangat kebersamaan ini agar menjadi kekuatan dalam menghadapi tantangan ke depan,” pungkas Bamsoet.















