CILEGON, RUBRIKBANTEN —Memasuki usia ke-23, PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Cilegon Mandiri menegaskan langkah agresif untuk memperkuat peran di tengah masyarakat. Mengusung tema empowering community, BPRS tak hanya ingin eksis, tetapi juga menjadi solusi nyata bagi warga, khususnya pelaku UMKM yang selama ini masih dibayangi praktik rentenir.
Direktur Utama BPRS Cilegon Mandiri, M. Yoka Desthuraka, mengatakan momentum milad ke-23 menjadi titik refleksi sekaligus akselerasi agar kehadiran BPRS semakin dirasakan masyarakat luas.
“Di usia ke-23 ini, kami ingin lebih bermanfaat. Fokus kami adalah pemberdayaan masyarakat, terutama di Kota Cilegon,” ujarnya.
Ia menegaskan, arah kebijakan tersebut sejalan dengan visi perusahaan dan dorongan Pemerintah Kota Cilegon agar BPRS lebih berpihak pada kebutuhan masyarakat lokal. Dukungan pun terus mengalir, mulai dari perangkat RT/RW, linmas hingga kader yang kini mulai terhubung dengan layanan BPRS.
Salah satu langkah strategis yang dijalankan adalah keterlibatan dalam program beasiswa Pemkot Cilegon. BPRS dipercaya sebagai penyalur dana, sekaligus turut mendukung penguatan sistem seleksi yang kini menyasar siswa berprestasi sejak jenjang SMA.
“Program ini sangat baik, karena menjaring sejak dini. Banyak anak cerdas yang terkendala biaya. Di sinilah peran kita untuk hadir,” jelasnya.
Tak berhenti di sektor sosial, BPRS juga mulai memperluas jejaring dengan kalangan industri. Melalui akses ke forum HRD perusahaan se-Cilegon, BPRS membuka peluang kerja sama dalam pengelolaan dana, pembiayaan, hingga program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Namun di balik capaian tersebut, Yoka mengakui masih ada pekerjaan rumah besar: rendahnya tingkat pengenalan BPRS di masyarakat, meski telah berdiri lebih dari dua dekade.
“Kami jujur, selama ini belum terlalu dikenal luas. Padahal kami sudah 23 tahun. Ini yang sedang kami kejar,” ungkapnya.
Untuk itu, pendekatan berbasis komunitas menjadi strategi utama. RT dan RW didorong menjadi ujung tombak sosialisasi sekaligus penghubung dengan masyarakat, termasuk dalam menjangkau pelaku UMKM di pasar-pasar tradisional.
Di sektor inilah tantangan terbesar berada. Menurut Yoka, dominasi rentenir di pasar masih sangat kuat, sehingga kehadiran BPRS harus benar-benar mampu menawarkan alternatif yang lebih adil dan menyejahterakan.
“Pasar itu masih didominasi rentenir. Ini tantangan besar bagi kami. BPRS harus hadir sebagai solusi pembiayaan yang lebih sehat dan sesuai prinsip syariah,” tegasnya.
Dengan dukungan pemerintah, komunitas, dan ke depan sektor swasta, BPRS Cilegon Mandiri optimistis mampu memperluas jangkauan layanan sekaligus memperkuat perannya sebagai lembaga keuangan syariah yang berpihak pada masyarakat kecil.
“Harapan kami sederhana, BPRS bisa lebih dikenal, lebih dipercaya, dan benar-benar menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat,” pungkasnya.















