SERANG, RUBRIKBANTEN – Calon Ketua Umum Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN), Riyan Hidayat, menegaskan komitmennya untuk membawa organisasi sayap pemuda PAN menjadi pelopor gerakan politik yang peduli terhadap lingkungan. Hal itu disampaikannya di sela-sela Kongres VII BM PAN yang digelar di salah satu hotel di Anyer, Kabupaten Serang, Sabtu (11/7/2026).
Riyan mengatakan, isu krisis iklim dan pelestarian lingkungan saat ini menjadi perhatian serius, sehingga harus direspons dengan aksi nyata, termasuk oleh partai politik dan organisasi kepemudaan.
Menurutnya, budaya peduli lingkungan sejatinya sudah mulai diterapkan di internal Partai Amanat Nasional (PAN). Ia mencontohkan kebiasaan kader membawa tumbler sendiri dalam setiap kegiatan sebagai upaya mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai.
“Di PAN memang sudah mulai dibangun budaya ramah lingkungan. Dalam berbagai kegiatan kami membiasakan membawa tumbler agar tidak menggunakan botol plastik sekali pakai,” ujar Riyan dikutip diakun sosial media milik Riyan Hidayat yang diunggahbdi Tiktok, Sabtu (11/7/2026).
Ia juga menuturkan, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan memberikan teladan sederhana namun bermakna dalam mengurangi pemborosan makanan. Menurutnya, setiap makanan yang masih layak konsumsi selalu dibawa pulang agar tidak menjadi sampah.
Selain itu, kata Riyan, budaya memilah sampah organik dan nonorganik juga terus dibangun di lingkungan PAN sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran terhadap pengelolaan sampah.
Apabila terpilih memimpin BM PAN, Riyan berjanji akan memperkuat gerakan tersebut melalui berbagai kegiatan organisasi. Salah satunya dengan memastikan seluruh agenda BM PAN menerapkan konsep ramah lingkungan, termasuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
“Kegiatan-kegiatan BM PAN ke depan harus menjadi contoh. Kami ingin membiasakan penggunaan tumbler, mengurangi sampah plastik, dan membangun kesadaran lingkungan di kalangan generasi muda,” katanya.
Riyan menilai langkah-langkah sederhana seperti itu bukan sekadar simbol atau gimik, melainkan cara untuk membangun kebiasaan positif yang dapat menjadi pemantik perubahan perilaku masyarakat.
“Kalau orang menganggap itu gimik, bagi kami justru itu pemantik. Kesadaran publik harus dimulai dari langkah-langkah kecil. Setelah budaya itu terbentuk, barulah kita dorong menjadi kebijakan yang lebih luas,” tegasnya.
Ia berharap BM PAN tidak hanya dikenal sebagai organisasi kaderisasi politik, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak gerakan kepemudaan yang peduli terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan.















