Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Banner Atas Rubrik Banten
BantenBeritaDaerahEkonomiKementerianKota TangerangNasionalOrganisasiPemerintahPendidikanPolitikSosialUMKM

China Tancap Gas dengan 5G dan IoT, Akademisi Universitas Pamulang Ingatkan Indonesia Jangan Cuma Jadi Penonton

39
×

China Tancap Gas dengan 5G dan IoT, Akademisi Universitas Pamulang Ingatkan Indonesia Jangan Cuma Jadi Penonton

Sebarkan artikel ini

TANGERANG, RUBRIKBANTEN – Kemajuan teknologi telekomunikasi di China mulai mengubah wajah industri logistik dunia. Pemanfaatan jaringan generasi kelima (5G) dan Internet of Things (IoT) dinilai mampu mempercepat pengelolaan gudang, meningkatkan akurasi distribusi, hingga menekan biaya operasional perusahaan.

Di tengah pesatnya transformasi tersebut, Indonesia dinilai perlu memperkuat kemampuan teknologi dalam negeri agar tidak hanya menjadi pasar dan pengguna perangkat digital dari luar negeri.

Banner

Dosen Teknik Elektro Universitas Pamulang, Ir. Mohamad Reynaldy Hilyawan, S.T., M.T., menilai perkembangan teknologi 5G dan IoT membuka peluang besar bagi Indonesia untuk membangun sistem logistik nasional yang lebih modern, efisien, dan kompetitif.

Menurutnya, keberhasilan industri logistik saat ini tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kecepatan pengiriman barang, tetapi juga kemampuan perusahaan dalam mengelola informasi secara akurat dan terintegrasi.

“Nilai utama IoT bukan sekadar mengumpulkan data, melainkan mengubah data menjadi keputusan operasional,” jelas Reynaldy dalam tulisan kajiannya.

China Melaju, Indonesia Harus Bergerak

Reynaldy mengungkapkan, China telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam penerapan teknologi komunikasi untuk mendukung kegiatan industri dan rantai pasok.

Berdasarkan laporan State-owned Assets Supervision and Administration Commission of the State Council (SASAC) China pada 22 Januari 2026, China Mobile Guangdong bersama Huawei menerapkan sistem 5G-Advanced dan IoT pasif untuk mengintegrasikan proses produksi, distribusi, hingga pengelolaan gudang.

Dalam implementasi yang dilaporkan tersebut, efisiensi proses keluar-masuk barang meningkat lebih dari 90 persen. Meski demikian, capaian tersebut merupakan hasil proyek tertentu dan tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh perusahaan logistik.

Kemajuan ini memperlihatkan bahwa transformasi digital bukan lagi sekadar wacana, melainkan telah menjadi bagian dari strategi penguatan daya saing industri.

China bahkan telah mendorong pengembangan rantai pasok digital melalui pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), IoT, dan blockchain.

Menurut Reynaldy, perkembangan tersebut perlu menjadi perhatian serius bagi Indonesia, terutama dalam membangun ekosistem teknologi yang sesuai dengan kebutuhan industri nasional.

Baca juga:  Pansel Baznas Cilegon Buka Seleksi, Minimal Usia 40 Tahun dan Tak Boleh Pengurus Parpol

Teknologi Canggih Tak Cukup, Harus Berdampak pada Efisiensi

Reynaldy menjelaskan, IoT memungkinkan berbagai perangkat fisik seperti sensor suhu, GPS, RFID, sensor kelembapan, dan perangkat pemantauan kendaraan saling terhubung melalui jaringan komunikasi.

Melalui teknologi tersebut, perusahaan dapat mengetahui posisi kendaraan, memantau kondisi barang, mengawasi persediaan gudang, hingga mendeteksi potensi keterlambatan distribusi.

Sebagai contoh, kendaraan pengangkut produk pangan maupun farmasi dapat dilengkapi sensor suhu yang secara otomatis mengirimkan peringatan apabila kondisi penyimpanan tidak sesuai standar.

Sementara itu, penggunaan GPS dan perangkat telemetri memungkinkan perusahaan memantau konsumsi bahan bakar, kondisi mesin, serta pergerakan armada secara lebih terukur.

Namun, Reynaldy mengingatkan bahwa tidak semua kebutuhan digitalisasi harus menggunakan jaringan 5G.

Untuk sejumlah kegiatan operasional, teknologi komunikasi yang sudah tersedia masih dapat dimanfaatkan secara efektif dengan biaya lebih terjangkau.

Karena itu, pemilihan teknologi harus mempertimbangkan kebutuhan industri, kesiapan infrastruktur, serta kemampuan investasi perusahaan.

Indonesia Sudah Memulai, tetapi Tantangan Masih Besar

Di Indonesia, pemanfaatan teknologi 5G untuk mendukung kegiatan logistik mulai dikembangkan melalui sejumlah kolaborasi industri.

Salah satunya adalah fasilitas 5G Smart Warehouse di Cikarang, Jawa Barat, yang diresmikan Telkomsel bersama Huawei pada Maret 2024.

Kolaborasi tersebut kemudian diperkuat pada September 2025 melalui pengembangan solusi gudang pintar yang mengintegrasikan teknologi AI, IoT, dan jaringan 5G bagi sektor manufaktur.

Selain itu, Indonesia memiliki National Logistics Ecosystem (NLE) yang bertujuan menyelaraskan arus barang dan dokumen melalui pertukaran data serta integrasi sistem logistik.

Reynaldy menilai integrasi teknologi pemantauan fisik dengan ekosistem administrasi digital berpotensi meningkatkan transparansi dan keterlacakan barang sepanjang rantai pasok.

Meski demikian, persoalan konektivitas di sejumlah wilayah, kebutuhan investasi perangkat, serta keamanan data masih menjadi tantangan yang harus diselesaikan.

Baca juga:  PLN Gaspol Dukung Industri, LSD Dongkrak Produksi Aluprima Pacific hingga Kian Kompetitif

Digitalisasi logistik juga harus memperhatikan perlindungan informasi perusahaan, mulai dari lokasi kendaraan, data persediaan, hingga pola distribusi barang.

Kampus Ditantang Lahirkan Inovasi, Bukan Sekadar Pengguna Teknologi

Lebih jauh, Reynaldy menekankan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam memperkuat kemampuan rekayasa teknologi nasional.

Menurutnya, pendidikan Teknik Elektro memiliki peran strategis dalam menghasilkan inovasi sensor, perangkat IoT berdaya rendah, sistem komunikasi data, teknologi RFID, hingga pemantauan kondisi kendaraan.

Penelitian yang dilakukan perguruan tinggi juga perlu diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata industri, bukan hanya menghasilkan prototipe yang berhenti pada tahap pengujian laboratorium.

Kerja sama antara kampus dan perusahaan logistik dinilai dapat mempercepat lahirnya solusi teknologi yang lebih aplikatif, terjangkau, dan sesuai dengan kondisi Indonesia.

Penguatan sumber daya manusia dan kemampuan integrasi sistem juga menjadi penting agar ketergantungan terhadap teknologi impor tidak terus berlanjut.

Jangan Terjebak Gengsi Teknologi

Reynaldy menegaskan, keberhasilan transformasi digital tidak boleh hanya diukur dari kecanggihan perangkat maupun banyaknya teknologi yang digunakan perusahaan.

Ukuran paling penting adalah sejauh mana penerapan teknologi mampu meningkatkan ketepatan pengiriman, mengurangi kesalahan pencatatan, memperbaiki efisiensi operasional, dan menekan biaya distribusi.

Indonesia, menurutnya, memiliki peluang untuk mengembangkan sistem logistik modern dengan memanfaatkan teknologi yang telah tersedia sekaligus memperkuat kemampuan inovasi dalam negeri.

Dengan pendekatan tersebut, pemanfaatan 5G dan IoT diharapkan tidak hanya menjadi simbol modernisasi industri, tetapi benar-benar memberikan manfaat ekonomi.

Pada akhirnya, kemajuan industri logistik nasional akan sangat bergantung pada kemampuan menghubungkan teknologi, sumber daya manusia, dan kebutuhan operasional secara efektif.

Transformasi digital bukan perlombaan menggunakan teknologi paling canggih, melainkan upaya membangun sistem distribusi yang lebih efisien, transparan, dan mampu meningkatkan daya saing Indonesia di tengah persaingan industri global.

Example 120x600
Untitled-1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!