CILEGON, RUBRIKBANTEN – Arus mudik Lebaran 2026 memang mulai mereda dan kini bergeser menuju puncak arus balik. Namun, persoalan klasik di lintasan penyeberangan Pelabuhan Merak–Pelabuhan Bakauheni kembali mencuat. Para nahkoda kapal menilai kemacetan yang seharusnya terjadi di darat justru “dipindahkan” ke laut, membuat kapal harus menunggu lama untuk sandar dan berdampak langsung pada kru serta penumpang.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh penyelenggara Angkutan Lebaran guna mengurai kepadatan, baik di dalam maupun di luar area pelabuhan. Skema pengaturan lalu lintas hingga pembagian arus kendaraan ke sejumlah titik penyeberangan terus diterapkan setiap tahun.
Namun faktanya, solusi tersebut dinilai belum menyentuh akar persoalan. Antrean panjang tetap terjadi, hanya saja lokasinya bergeser dari jalan raya ke perairan sekitar pelabuhan. Kapal-kapal terpaksa mengantre lama sebelum bisa bersandar di dermaga.
Kondisi ini diakui langsung oleh Kapten Kapal Royce 1, Amir Ansori. Ia menyebut, setiap musim mudik dan arus balik, kru kapal kerap menjadi pelampiasan emosi penumpang akibat lamanya waktu tunggu di atas kapal.
Menurutnya, situasi tersebut terjadi karena kapal harus menunggu giliran sandar dalam waktu yang tidak sebentar, demi menghindari penumpukan kendaraan di area pelabuhan maupun di jalan umum.
Di satu sisi, kebijakan ini memang efektif mencegah kemacetan parah di darat yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat. Namun di sisi lain, beban justru beralih ke laut—dan berdampak pada kenyamanan serta keselamatan pelayaran.
Tanpa solusi menyeluruh, pola “memindahkan kemacetan” ini berpotensi terus berulang setiap tahun. Evaluasi menyeluruh dan terobosan baru dinilai mendesak agar arus mudik dan balik tidak lagi menjadi beban bagi salah satu pihak saja.















