JAKARTA, RUBRIKBANTEN – Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15, Bambang Soesatyo, menegaskan pentingnya kecepatan distribusi logistik dalam masa tanggap darurat bencana. Melalui PT Banjarnegara Agro Mandiri Sejahtera (BAMS), sebanyak 1.000 paket makanan siap saji berteknologi dikirim untuk para penyintas bencana di Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.
Bamsoet menjelaskan, bantuan tersebut dikirim langsung oleh perwakilan PT BAMS, Andri Noviar, pada 15 Januari 2026 lalu, sebagai respons cepat terhadap kondisi darurat di wilayah terdampak bencana di Sumatera.
“Dalam situasi bencana, distribusi pangan harus bergerak cepat karena menyangkut daya tahan fisik dan psikologis penyintas. Kita tidak bisa menunggu dapur umum berdiri sempurna sementara warga sudah berhari-hari berada di pengungsian,” tegas Bamsoet saat menerima jajaran direksi PT BAMS di Jakarta, Selasa (24/2/2026).
Bencana Meningkat, Logistik Jadi Taruhan
Mengacu pada data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), intensitas bencana hidrometeorologi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terus meningkat. Sepanjang 2025, ribuan kejadian banjir, longsor, dan angin kencang tercatat berdampak pada jutaan warga. Sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatera Utara pun masuk kategori rawan akibat curah hujan ekstrem dan luapan sungai.
Dalam kondisi tersebut, akses jalan sering terputus, distribusi logistik tersendat, dan dapur umum sulit segera beroperasi.
“Kita harus realistis melihat kondisi di lapangan. Membangun dapur umum membutuhkan peralatan, gas, air bersih, tenaga relawan, dan waktu. Sementara korban membutuhkan asupan gizi saat itu juga. Makanan siap saji berteknologi menjadi solusi strategis yang efektif,” ujar Bamsoet.
Solusi Pangan Praktis dan Tahan Lama
Produk yang diproduksi PT BAMS dirancang khusus untuk situasi krisis. Makanan dapat langsung dikonsumsi hanya dengan tambahan air panas sesuai takaran, tanpa proses memasak rumit. Teknologi pengolahan dan pengemasan membuat produk higienis, tahan dalam jangka waktu tertentu, serta mudah didistribusikan dalam jumlah besar.
Konsep ini dinilai mampu mempersingkat rantai logistik sekaligus mengurangi ketergantungan pada dapur umum di lokasi bencana.
“Kami ingin menghadirkan solusi konkret. Ketika akses jalan terputus dan sumber daya terbatas, bantuan pangan harus tetap menjangkau korban. Produk ini praktis, aman, dan mampu menjaga kebutuhan kalori harian penyintas, terutama anak-anak dan kelompok rentan,” jelasnya.
Bamsoet menambahkan, inovasi industri pangan harus menjadi bagian dari manajemen kebencanaan nasional. Kolaborasi antara sektor industri, relawan, dan pemerintah dinilai penting untuk memperkuat sistem ketahanan pangan darurat di Indonesia.
“Industri pangan harus hadir memberi solusi nyata saat negara menghadapi situasi darurat. Ke depan, kapasitas produksi akan diperkuat agar bantuan bisa menjangkau lebih banyak wilayah rawan bencana,” pungkas Bamsoet.















