CILEGON, RUBRIKBANTEN — Di tengah hiruk-pikuk Kota Industri Cilegon, lantunan salawat dan hafalan kitab klasik menggema dari sebuah majelis sederhana di Lingkungan Samangraya, Kelurahan Citangkil, Rabu (31/12/2025). Puluhan santri cilik menunjukkan bahwa modernitas tidak memutus tradisi keilmuan Islam.
Bertepatan dengan pergantian tahun 2025, sekaligus menyambut Bulan Rajab dan Haul Abah Guru Sekumpul (Martapura), majelis tersebut menggelar kegiatan Tahfidzul Kutub. Sekitar 30 anak berusia 6–11 tahun dengan lancar menyetorkan hafalan Kitab Aqidatul Awam dan Hidayatus Shibyan sebagai dasar akidah dan ilmu tajwid.
Penggagas kegiatan, Ustadz Ardi Nurul Fajri, menegaskan bahwa keterbatasan fasilitas bukan penghalang untuk berdakwah dan menanamkan nilai keislaman sejak dini.
“Di tengah gemerlap kota, kami ingin anak-anak merayakan tahun baru dengan mendekatkan diri kepada Allah melalui ilmu para ulama, bukan dengan hura-hura,” ujarnya.
Kegiatan ini mendapat apresiasi Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cilegon, Ayatullah Khumaeni. Ia menilai tradisi menghafal kitab sebagai bagian penting dari kebudayaan religius yang harus dijaga.
“Ini bukti bahwa identitas spiritual masyarakat Cilegon masih hidup di tengah arus industrialisasi,” katanya.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan keberkahan tahun baru, sekaligus mengenang keteladanan Abah Guru Sekumpul dalam mencintai ilmu dan dakwah.













