CILEGON, RUBRIKBANTEN – Harga beras premium di Kota Cilegon, Banten, mulai merangkak naik hingga menembus Rp16.000 per kilogram. Kondisi tersebut membuat Pemerintah Kota Cilegon memperketat pengawasan harga dan ketersediaan beras di pasar tradisional maupun ritel modern.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Cilegon, Didin S Maulana, mengatakan pemantauan harga dan stok beras dilakukan rutin setiap pekan bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Polres Cilegon, serta unsur ketahanan pangan.
Menurut Didin, harga standar beras premium berada di kisaran Rp14.500 per kilogram. Namun, di lapangan ditemukan harga yang telah mencapai Rp16.000 per kilogram.
“Untuk premium, harga standarnya Rp14.500, itu sampai Rp16.000. Untuk medium juga ada kenaikan. Untuk SPHP masih tetap harga standar,” kata Didin di Cilegon, Jumat (2/10/2026).
Tak hanya menemukan kenaikan harga, tim pengawasan juga mendapati sejumlah produk beras yang dijual dengan harga tidak sesuai ketentuan.
Didin menyebut sekitar 22 produk beras telah ditarik dalam kegiatan pengawasan tersebut karena harganya dinilai terlalu tinggi.
“Itu yang ada 22 kalau tidak salah, ada produk yang ditarik karena tidak sesuai ketentuan, harganya terlalu mahal,” ujarnya.
Pengawasan dilakukan di sejumlah titik, mulai dari Pasar Kranggot hingga sejumlah ritel modern seperti Super Indo dan Hypermart. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan harga beras tetap terkendali sekaligus menjaga ketersediaan pasokan bagi masyarakat.
Meski harga premium mengalami kenaikan, Didin memastikan stok beras di Kota Cilegon masih dalam kondisi aman.
Ia mengatakan sejumlah toko besar memiliki persediaan yang dapat memenuhi kebutuhan hingga sekitar empat sampai lima hari. Setiap toko besar rata-rata menyimpan stok sekitar lima hingga enam ton, tergantung kapasitas masing-masing.
“Setiap distribusi itu beras mereka simpan untuk pasokan lima hari. Satu toko besar persediaannya sampai lima hari,” katanya.
Pemantauan harga dan stok, lanjut Didin, akan terus dilakukan guna mengantisipasi gangguan distribusi maupun lonjakan harga yang berpotensi membebani masyarakat.
Di sisi lain, Pemkot Cilegon juga menyiapkan program subsidi bahan pokok bagi masyarakat rentan yang masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Program tersebut berbeda dengan operasi pasar. Dalam skema subsidi, pemerintah memberikan bantuan langsung terhadap paket kebutuhan pokok seperti beras dan minyak, sehingga masyarakat hanya membayar sebagian dari harga normal paket.
“Kalau operasi pasar kan harganya murahnya sedikit. Kalau ini disubsidi, misalnya harga paket beras, minyak dan segala macam Rp100.000, masyarakat cuma beli setengahnya,” ujar Didin.















